Pidato Kebudayaan KH Zamawi Imron dan Harlah 50 Lesbumi NU

Jakarta, NU Online
Sastrawan D Zawawi Imron seharusnya sudah lima belas tahun lalu menerima anugerah sastra tertingi di kawasan Asia Tenggara, The S.E.A. Write Award dari Kerajaan Tahiland.

Demikian disampaikan Pemimpin Redaksi majalah sastra Horison Jamal D. Rahman saat menyampaikan kesaksiannya tentang kiprah kepenyairan Zawawi. Hal itu ditegaskan Jamal sebelum Zawawi menyampaikan pidato kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Rabu malam (28/3) lalu.

Pidato kebudayaan itu berjudul Menimba Ilham Vitalitas dari Nilai-nilai Pesantren, disampaikan dalam rangka peringatan hari lahir ke-50 Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU.

“Sebenarnya, penganugerahan itu sudah diusulkan para sastrawan sejak tahun 90-an, tapi Pemerintah RI tidak cepat tanggap. Makanya, lambat sekali dia mendapatkan anugerah tersebut,” ujarnya.

D Zawawi Imron adalah penyair serba bisa asal Madura, kelahiran 1945. Ia seorang kiai, mubaligh, dan pengasuh pesantren. Aktivitasnya sangat padat, “Sekali waktu Pak Zawawi menelepon saya ketika ia di Gorontalo. Di waktu lain, ia bilang di Sumatera,” ujar Ahmad Tohari yang juga didaulat untuk menyampaikan kesaksiannya.

Zawawi menulis puisi sejak usia 13 tahun, ketika ia di pesantren. Pada mulanya hanya sebagai kegemaran dan panggilan jiwa saja. Tapi kemudian salah seorang temanya mengetik puisinya berjudul Sembari Diri Berangkat Tua. Dan dimuat di media lokal Minggu Bhirawa.

Kemudian puisi demi puisi lahir dari tangannya, “Pak Zawawi pernah bilang kepada saya, bahwa ia sudah membuat seratus puisi dalam sebulan,” ungkap Tohari, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk di hadapan 300 hadirin.

Pada mulanya Tohari tidak percaya. Kalaupun iya, pasti kualitasnya menurun. Tapi lama-kelamaan Tohari sadar, puisinya Zawawi tetap berkualitas.

Karena ituah, berbagai penghargaan pernah diterima Zawawi. Pada tahun 1979, sajaknya memperoleh juara I dalam lomba yang ditaja Perhimpunan Sahabat Pena Indonesia. Tahun 1983, 1984, 1985 ia memenangkan lomba yang digelar Perhimpunan Indonesia Amerika. Tahun 1985, syairnya Nenek-moyangku Airmata memperoleh hadiah Yayasan Buku Utama.

Tahun 2010, penyair berjuluk Celurit Emas itu, mendapat penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara. Dan tahun 2011 menggondol South East Asia Write Award. Hadiah tersebut dianugerahkan di Mandarin Oriental, Bangkok, 16 Februari 2012.

Tak heran, sastrawan Martin Aleida pernah menggambarkannya Zawawi sebagai Penyair Raksasa dari Madura. Hal itu diungkapkan Martin saat Sarasehan Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, beberapa waktu lalu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: