RMI Kudus Lakukan Pendataan Pesantren

Kudus, NU Online
Sejak Jum’at (23/3) lalu, Pengurus Cabang (PC) Rabithah Ma’ahidil Islamiyah (RMI) Kudus kembali melakukan pendataan pondok pesantren yang ada di kota kretek ini. Untuk mempercepat prosesnya, RMI telah menerjunkan tim pendataan ke sejumlah pesantren di masing-masing kecamatan di Kabupaten Kudus.

Ketua PC RMI Kudus KH Afifudin mengatakan program pendataan ini merupakan langkah adminsitratif dengan tujuan mengawal lembaga pesantren dari ancaman faham lain yang radikal. “Dengan pendataan, keberadaan pesantren yang notabene NU ini diharapkan tidak lepas ke tangan kelompok lain,” ujarnya kepada NU Online di Kantor NU Kudus, Sabtu (24/3).

Dikatakannya, pesantren sebagai lembaga kultural NU sangat membutuhkan dukungan struktural sehingga jati dirinya tetap memiliki kekuatan dan mampu membentengi perembesan budaya. “Kalau tidak dibentengi, perembesan budaya akan berpengaruh besar terhadap pendidikan pesantren,” tandas Dosen STAIN Kudus.

Sekarang ini, tuturnya, telah banyak istilah-istilah dalam pendidikan pesantren NU yang dikaburkan oleh kelompok lain. Misalnya, salaf dikaburkan menjadi salafi, laskar Aswaja digunakan kelompok lain dan juga istilah tafsir dijadikan simbol nama organisasi yang tidak sepaham dengan idiologi Ahlussunnah Wal Jamaah.

“Melalui program (pendataan) ini, RMI siap meng-NU-kan pesantren sekaligus penguatan kelembagaan dibawah naungan NU,” tegasnya.

Setelah pendataan, jelasnya, akan dilakukan dengan berbagai tahapan administratif lainnya yaitu penyeragaman stempel pesantren berlabel RMI, papanisasi dan penataan manajemen serta kurikulum pesantren.

“Pendidikan pesantren, kita upayakan kurikulumnya ada Aswaja dan ke-NU-an, sedangkan managemennya kita dorong lebih modern dengan memanfaatkan Informasi Tehnologi (IT),” tambah Gus Afif -panggilan akrabnya.

Di akhir perbincangannya, Gus Afif menambahkan, RMI akan menindaklanjuti pengajian bisnis di kalangan santri pesantren. Tujuannya mendorong para santri memiliki kemandirian tetapi mampu membantu orang lain.

“Saat sarasehan santri dan saudagar, lahir gagasan mendorong santri memiliki usaha mandiri sebagaimana spirit Jigang yang ditanamkan sunan Kudus lalu,” pungkasnya seraya menginformasikan bulan April RM Kudus kedatangan mahasiswa ITS Surabaya yang melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: