Suara Bawah Umat NU

Jakarta, NU Online
Lebih dari seratus ribu Nahdliyin dari berbagai daerah memenuhi Gelora Bung Karno, Jakarta. Mereka menghadiri Rapat Akbar dalam rangka peringatan Harlah ke-85 NU, Ahad (17/7).

“Kami berangkat satu bus,” tutur Kiai Amirudin, ketua Syuriyah MWC  Teraju, Tasikmalaya, selepas sembahyang Duhur yang dialasi kardus, di emperan toilet GBK.

“Kami berdikari dengan iuran sebesar 110 rupiah per orang. Tak ada yang mengeluh dengan harga ini karena ini termasuk murah,” tambah kiai yang menjabat ketua syuriayah MWC NU sejak tahun 60-an. Sebelumnya diemban gurunya sendiri, K. H. Anwar Qalyubi.  Dia meneteskan air mata ketika ditanya tentang gurunya. Ia ingat peristiwa tahun 50-an.

“Rumah guru saya diduruk (dibakar, red.) gerombolan pengacau keamanan. Saya menyaksikan sendiri lambang Nahdlatul Ulama ikut terbakar. Untung guru saya beserta keluarga selamat,” kenang pengasuh Pesantren Alhuda ini.  Tiba-tiba matanya redup, dan melelehkan air mata.

Sementara itu, seorang anggota Banser dari Sukabumi, Jawa Barat, berkata, “Saya ingin menggebyarkan Harlah NU ke-85.” Ia ikut ke jakarta untuk mengawal 7 bus peserta harlah dari PCNU Kab. Sukabumi dan PCNU Kota Sukabumi. Dia bangga menjadi Banser karena bisa dekat dengan kiai.

“Mudah-mudahan kecipratan berkahnya,” tambah anak muda NU yang mengidolakan Wachid Hasyim dan Gus Dur.

Menurutnya, Wachid Hasyim adalah orang yang bertanggung jawab dalam setiap perkatannya. Sementara Gus Dur orangnya jenius. Setiap perkatannya harus dicerna mendalam. Dia ikut acara-acara NU sejak di sekolah menengah karena salah seorang pamannya adalah pengurus cabang NU. Dari situ, keber-NU-annya terpupuk.

Masih dari Nahdliyin Sukabumi. Geugeu Alawiyah, seorang santriwati pesantren Siqayaturahmah mengatakan, kedatangannya ke Jakarta ingin ikut mensyiarkan NU. “Karena NU itu ahlisunanah wal jamaah,” jelasnya.

“Kami berangkat dua bus; satu putra, satu putri. Kami diajak guru kami KH Mahmud Mudrikah Hanafi, ketua Syuriyah NU kabupaten Sukabumi,” pungkasnya.

Ali Sodiq dari Al-Asryah Islamic Boarding School, Parung, Bogor, berkata, “Saya senang bisa melihat berbagai seni budaya Nusantara secara langsung.”

“Saya pertama kalinya ke GBK,” tambah siswa kelas 2 SMK Al-Ashriyah. “Saya bangga jadi anak NU ini, karena NU tokohnya kiai-kiai dari pesantren,” tukasnya.

Di luar GBK, lelaki paruh baya duduk dialasi sandal jepit, mengenakan koko putih, bersarung merah yang bergaris hitam dan berpeci hitam kemerahan. Muhammad Tohir, nama lelaki dari Semarang, Jawa Tengah. Ia duduk sendirian di antara lautan manusia.

Sambil menggenggam tiang bendera Nahdlatul Ulama ia bilang, “Saya berangkat berdua dengan seorang teman. Bergabung dengan rombongan ranting yang ada di Semarang. Guru saya tak bisa hadir karena ada acara ziarah. Beliau menyuruh saya sebagai perwakilan,” tuturnya.

Musbihin, ketua tanfidziyah MWC Majenang, Cilacap, memberangkatkan anggotanya 1 bus. Selain iuran dari peserta, biaya dibantu pengurus cabang Cilacap.  “NU tak ada mundurnya,” tegasnya ketika ditanya apakah kini NU makin maju atau mundur.

“Cuma memang kalau di politik NU sering pecah. Tapi kalau sudah di NU semua menyatu,” lanjutnya.

Dia mengharapkan NU konsentrasi membangun pendidikan, mengurusi pesantren dan juga sekolah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: