Umat Islam jangan Tanggapi Persoalan dengan Emosi

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi meminta agar umat Islam tidak menanggapi berbagai persoalan terkait umat atau kelompok lain secara emosional dan memusuhi, tetapi kemajuan dan keunggulan yang dicapai orang lain harus disikapi sebagai sarana untuk berkompetisi secara sehat.

“Kita tidak perlu memusuhi, tetapi mengungguli, melakukan kompetisi bukan menghancurkan,” katanya, Rabu (25/5).

Kompetisi, menurutnya, akan membuat orang menjadi tertantang untuk maju. Ini merupakan sebuah energi positif yang bisa dimanfaatkan untuk memacu diri mencapai kemajuan yang belum dicapai fihak lain.

Kelompok Islam garis keras, selama ini sangat suka mengucapkan dalil fastabikul khairat, yang artinya menyuruh untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Agama juga mengajarkan untuk faktabiru yaa ulil albab atau mengambil pelajaran dari orang lain yang merupakan perintah belajar dari kemajuan dan kelemahan orang lain. Sejauh ini dalil agama tersebut hanya menjadi omongan di bibir saja. Mereka menganggap orang lain sebagai musuh yang harus dihancurkan, bukan sebagai partner dalam bersaing mencapai keunggulan.

“Karena secara teologis, pemahaman yang mereka kembangkan penuh klaim kebenaran pada dirinya sendiri, seolah kebenaran hanya miliknya, padahal ada kebenaran dan pelajaran yang bisa diambil dari orang lain,” terangnya.

Masdar mengakui adanya ketimpangan dan ketidakadilan di dunia ini, tetapi tinggal bagaimana melakukan respon terhadap hal tersebut. Ia mencontohkan China yang juga ditekan oleh Amerika Serikat, tetapi tidak melawan dengan cara kekerasan, melainkan dengan membangun kekuatan ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan militer secara terus menerus sehingga dalam dua puluh tahun terakhir, terdapat perubahan nyata terhadap diri mereka yang menunjukkan kekuatan yang mereka miliki dan akhirnya disegani oleh fihak lain.

“Perlawanan tidak dilakukan dengan kekerasan, yang justru melemahkan dirinya sendiri. Sekarang Amerika pun harus angkat topi atas kemajuan yang dicapai China,” tandasnya.

Ia menyarankan untuk menjadikan Amerika sebagai competitor karena agenda yang dimiliki bukan menghancurkan, tetapi memajukan diri bersama orang lain “Ambisi kita bukan menghancurkan, tapi menjadikan orang lain sebagai faktor dinamis untuk maju,” tandasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)