Bedah Pemikiran Syech Nawawi al-Bantani Lakpesdam PCI NU Mesir

Kairo, NU Online
Rabu, 10 Agustus 2011 Lakpesdam Mesir menggelar “Kongkow Ramadhan Lakpesdam Mesir” untuk membedah pemikiran Nawawi al-Bantani. Pembedah adalah Ahmad Hadidul Fahmi, koordinator umum Lakpesdam Mesir, dan Fahmy Farid Purnama, koordinator Divisi Pemikiran Lakpesdam. Acara ini dimoderatori oleh Muslihun Maksum, anggota Lakpesdam.

Mengawali acara, Muslihun Maksum selaku moderator mengatakan, pesantren merupakan salah satu tempat pengajaran studi ke-Islam-an di Indonesia. Sebagaimana halnya sebuah lembaga, sistem pendidikan yang dianut oleh pesantren mempunyai ciri khas tersendiri dan tentu berbeda dari kurikulum lembaga yang lainnya.

Yang menarik dari pesantren adalah metode pengajarannya, yaitu, bandongan, sorogan, halqah dan wadonan. Ketiga metode ini sebagai pelantara dari isi materi yang disampaikan oleh para guru, ustadz dan kiai. Isi yang disampaikan oleh mereka kepada santri meliputi ilmu fikih, tasawuf, hadist, al-qur’an, teologi dan gramatikal Arab.

Untuk pengajian ilmu fikih dan tasawuf, para kiai tak jarang mempergunakan buku-buku karangan Nawawi Al-Batani. “Oleh karena itu, saya pikir tidak asing lagi jika nama Nawawi al-Bantani disebut,” imbuh Muslihun.

Narasumber pertama, Ahmad Hadidul Fahmi, mulai merangkai kata dan mendeskripsikan pemikiran Nawawi Al-Bantani berikut karangannya, “Saya banyak berkenalan dengan karangan Syaikh Nawawi al-Bantani; Kasyifat al-Saja Syarh Safinat al-Naja, Nihayat al-Zain Syarh Qurrat al-Ain.

Apalagi kitab tersebut adalah kitab dasar yang dipergunakan oleh pengkaji keislaman pemula di pesantren. Memasuki jenjang yang lebih tinggi, kita akan menemukanMaraqi al-Ubudiyyah Syarh Bidayat al-Hidayah. Akan tetapi, kajian yang mendalam ala “makno gandul” ini hanya pembekalan terhadap materi-materi dasar Islam an sich,”ungkapnya ketika mengingat masa-masa di pesantren.

“Pengajian yang berlangsung di pondok pesantren tidak pernah memperkenalkan sosok Nawawi al-Bantani. Kita tidak pernah diberi tahu, siapa dan bagaimana kiprah Nawawi al-Bantani pada masanya?,” tutur Hadidul Fahmi.

Padahal, biografinya disebut dalam buku Tarajim Primer, seperti al-A’lam karangan al-Zirkili (9 Jilid, bersanding dengan nama-nama orang-orang berpengaruh pada masa itu, termasuk juga para orientalis), Siyar wa Tarajim Afadlil Makkah karangan Umar Abdul Jabbar, dan Nasyrun Naur wa al-Zahr karangan Abdullah Mirdad Abu al-Khair, Mufti Mekah kala itu.

Selain termaktub juga dalam Kamus Munjid Louis Ma’luf yang terkenal itu bersama presiden Indonesia pertama, Soekarno. Bahkan Hassan Hanafi menyebut nama Nawawi al-Bantani dengan Tijan al-Durarinya dalam buku yang diproyeksikan untuk merekonstruksi teologi, Min al-Aqidah ila al-Tsawrah. Ini semua membuktikan kapabilitas keilmuan sosok ini dalam kancah intelektual dunia Arab,” imbuhnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: