Berbeda Indah, tapi Bersama Lebih Indah

Ramadan berakhir sebentar lagi. Di tengah kesibukan mudik dan perasaan haru karena akan ditinggalkan bulan yang penuh rahmat dan ampunan, umat Islam Indonesia harus kembali bersiap dengan adanya potensi perbedaan penetapan 1 Syawal 1432 Hijriah. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memperkirakan, tahun ini ada yang merayakan Idul Fitri pada Selasa besok (30/8), ada pula yang Rabu (31/8).
Dua hari lalu, peneliti Lapan Thomas Djamaluddin menjelaskan, perbedaan itu disebabkan ketinggian hilal pada 29 Agustus di seluruh wilayah Indonesia hanya satu–dua derajat di atas ufuk. Dalam kondisi itu, hilal (bulan) tidak mungkin dapat diamati dengan menggunakan mata telanjang.
Dampak posisi hilal yang rendah itu, kalangan yang menggunakan kriteria wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk dengan prinsip wilayatul hukmi Indonesia) akan menetapkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus. Sedangkan kalangan yang memakai kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) besar kemungkinan berhari raya pada 31 Agustus. Menurut kriteria itu, batas ketinggian hilal yang bisa dirukyat haruslah di atas dua derajat.
Perbedaan Idul Fitri di Indonesia sudah berkali-kali terjadi. Meski pada awalnya muncul kekhawatiran akan terjadi gesekan-gesekan, dalam perkembangannya, kekhawatiran itu terkikis. Umat cenderung makin terbuka dan terbiasa menerima perbedaan serta menghormati saudara-saudaranya yang memilih ber-Idul Fitri sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Dengan peran media massa, saling pengertian di antara pemimpin ormas yang sering berbeda dalam penetapan 1 Syawal, misalnya antara pimpinan ormas terbesar NU dan Muhammadiyah, secara mudah dapat diakses oleh berbagai lapisan umat. Dengan begitu, pesan kerukunan dan menghargai perbedaan tidak sekadar menjadi wacana elite. Sikap saling toleransi di antara ormas yang berbeda mengirimkan pesan ke masyarakat bahwa perbedaan yang muncul itu semata-mata disebabkan perbedaan metodologi ijtihad, bukan karena motif politik tertentu.
Dalam titik itu, perbedaan tersebut menjadi indah. Namun, harus diakui bahwa setiap menjelang Ramadan, Idul Fitri, atau Idul Adha perbincangan hangat di masyarakat berkembang di seputar apakah penetapannya sama atau berbeda. Bagaimanapun, hal itu mengisyaratkan bahwa umat Islam sebenarnya lebih merasa nyaman jika dapat memulai puasa pada hari yang sama, lalu ber-Idul Fitri atau Idul Adha secara bersama-sama pula. Pada tingkat grass roots, perbedaan Idul Fitri bisa dirasakan sangat tidak nyaman secara sosiologis-psikologis.
Sebenarnya sudah ada usul, desakan, dan upaya untuk membuat sebuah persamaan penetapan hari besar umat Islam di Indonesia. Apakah itu mungkin? Sangat mungkin. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri yang memastikan bahwa perbedaan hari raya Idul Fitri bisa tidak terjadi lagi di Indonesia. MUI sudah berupaya mendorong penyamaan kriteria penentuan hilal. Ketidakseragaman kriteria penentuan hilal itulah yang menjadi penyebab terjadinya perbedaan penetapan awal bulan Hijriah, termasuk awal Ramadan atau Syawal.
Lapan bahkan mengusulkan penyamaan sistem kalender Hijriah. Menurut Djamaluddin, diperlukan tiga syarat utama untuk mewujudkannya. Indonesia sudah memenuhi dua syarat, yaitu batas wilayah dan otoritas tunggal, dalam hal ini menteri agama. Indonesia, tinggal belum memiliki kesamaan kriteria. Lapan mengusulkan apa yang disebut ’’kriteria hisab rukyat Indonesia’’. Kriteria tersebut adalah jarak sudut pandang bulan-matahari lebih dari 6,4 derajat dan beda tinggi bulan-matahari lebih dari empat derajat.
Namun, terlepas dari metode apa yang akan dipilih untuk menghindari perbedaan lagi di masa depan itu, semua upaya tersebut harus didasari semangat persatuan. Setiap kelompok mesti berdiskusi secara serius dan melepaskan atribut keormasannya. Tanpa semangat itu, langkah penyatuan dinilai sulit terealisasi. Dan yang menggembirakan, keinginan bersatu telah ditunjukkan elemen-elemen yang ada.
Nah, tinggal menunggu apa lagi? Jika selama ini kita mampu bersabar dan bekerja keras menyebarkan pesan perdamaian agar perbedaan Lebaran tidak menimbulkan perpecahan, tentu kita punya energi lebih besar lagi untuk bersabar dan bekerja keras untuk sebuah kriteria yang sama agar hari raya tidak berbeda. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Batin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: