Bupati Sumenep: Mari Berkaca Pada Gus Dur Soal Pluralisme

SUMENEP – Bupati Sumenep A Busyro Karim dihadapan satuan kerja perangkat daerah, tenaga pendidik dan siswa sekolah menengah atas untuk meneladani KH Abdurrahman Wahid.

Menurutnya, Gus Dur tokoh yang harus dicontoh dalam mewujudkan ketentaraman antar umat manusia.

“Selalulah berkaca kepada KH Abdurrahman Wahid yang dikenal sebagai pendekar demokrasi dan tokoh pluralisme Indonesia,” katanya dalam Sarasehan Hari Kebangkitan Nasioanal ke-105 yang digelar Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) bersama STKIP PGRI setempat dengan tajuk “Pluralisme, Etika dan Kebangkitan Bangsa,” Ahad (19/5).

Jika menilik sejarah Kabupaten Sumenep, kabupaten ujung timur pulau Madura tersebut terbentuk atas pondasi-pondasi keberagaman yang lalu menjadi watak yang memproses lahirnya toleransi dan interaksi masyarakat Sumenep sekarang ini.

“Karakter dan ciri toleransi itu dapat ditemukan melalui ikon religius Masjid Agung yang dikerjakan oleh warga Tionghoa pada masanya. Kemudian, Keraton Sumenep yang telah berusia 200 tahun, gaya arsitekturnya mengadopsi perpaduan Eropa, Arab dan Cina dengan mempercayakan kepada arsitek Law Piango dan Ka Seng An dari Cina,” katanya di Aula STKIP PGRI Sumenep.

Hadir sebagai pemateri Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya Dr Ibnu Anshory, Ketua STKIP PGRI Sumenep Dr Musaheri, dan Budayawan Madura D Zawawi Imron.

Ibnu Anshori mengemukakan, filsafat keragaman yang ada di Sumenep dapat memiliki potensi sebagai etalase nasional apabila didukung oleh empat pilar utama. Penghargaan kepada demokrasi, lingkungan hidup, hak asasi manusia dan penghargaan kepada perbedaan agama. Apabila filasafat keragaman itu diperkenalkan kepada dunia, investasi yang lain dengan sendirinya akan menjadi sektor ikutan.

“Pluralisme bisa menjadi modal dasar bagi kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Ia mengungkapkan, untuk mewujudkan terbentuknya empat pilar pendukung filsafat keragaman yang sudah ada, pemerintah dapat melakukan dialog dua arah. Menurutnya, pemerintah Sumenep masih mengadopsi kepemimpinan feodal dan gaya orde baru belum turun langsung ke lapangan menyerap langsung aspirasi dan keinginan masyarakat.

“Harus dibuang gaya yang seperti itu. Mulai sekarang harus dibentuk sikap yang propetik,” tuturnya.

Kepala Diskominfo Yayak Noer Wahyudi menjelaskan, acara tersebut sangat signifikan untuk menilai kembali terbentuknya sebuah negara modern. Spirit pluralisme di Sumenep, katanya, sudah terbentuk jauh dari awal masa-masa kerajaan dan tidak hanya terwujud pada adanya keragaman agama. Selain itu sangat penting demi kebaikan Sumenep ke depan, bagaimana pluralisme terbentuk pada sikap, perbedaan pendapat dan cara pandang.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)