Doa Lintas Iman untuk Gus Dur

Jakarta, NU Online
Wafatnya KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), akhir 2009 lalu, telah menyematkan banyak kenangan dalam ingatan ragam kalangan. Gus Dur adalah sosok yang sarat dengan keteladanan dan perjuangan untuk bangsa ini.

Karena itulah cita-cita dan perjuangan sang guru bangsa tersebut, melahirkan para Gusdurian. Mereka terus menggali inspirasi dari keteladaan dan pemikiran mantan ketua umum PBNU ini. Sebulan sekali mereka berkumpul bersilaturahim berikhtiar melanjutkan cita-cita dan perjuangan mantan preseden RI ke-4 ini.

Untuk bulan Agustus yang bertepatan dengan bulan puasa, Gusdurian mengadakan buka puasa sekaligus merayakan ulang tahun Gus Dur yang jatuh 4 Agustus. Acara dilaksanakan di Wahid Institut pada Jumat, 5/08, pukul 16.00. 
Acara yang dipandu Muhammad Subhi ini dihadiri sekitar seratus orang dari berbagai kalangan. Hadir pula putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid. Kemudian, beberapa orang didaulat menjadi pembicara atau testimoni; pengalaman intens dengan Gus Dur baik secara pribadi maupun pemikiran

Rumadi dari Wahid Institute menjelaskan otentisitas keislaman Gus Dur. Menurutnya, berbagai tindakan kontroversial Gus Dur merupakan ekspresi dari keberislamannya yang murni dan utuh. Ilmu kalam yang sangat teosentris ia dorong ke arah humanisme (antrposentris). Rumadi menyebutkan, itulah teologi sosial Gus Dur.

Hendrick Sirait dari PBHI. Ia punya kenangan saat di radio News FM yang pada tahun 2003-2004. Gus Dur mengisi acara di radio tersebut.

“Gus Dur tak pernah absen,” katanya. Malah dia selalu datang awal ketika kami masih tertidur, misalnya.

“Tapi ada pula nggak enaknya. Kalau Gus Dur tiba-tiba ada agenda ke luar kota. Kami disuruh siaran rekaman. Mau nggak mau harus datang,” tambahnya.

Kemudian mantan aktivis 98, Savic Alaeha. Ia  mengisahkan pengalamannya saat terkepung di Atmajaya bersama aktivis lainnya. Di luar, suara tembakan terus berlanjut. Sementara tidak tahu apa yang harus dilakukan dan sampai kapan akan berhenti. Mereka tetap bertahan dalam kondisi ketakutan. Beruntung ada aktivis tahun 80-an. Ia menyarankan untuk menaiki ambulans karena tentara akan men-swiping pentolan aktivis, termasuk Savic.

Savic menambahkan, para aktivis itu pun menaiki ambulans. Sirine berbunyi sepanjang perjalanan dan tidak tahu akan dibawa kemana. Ketika berhenti, ternyata di kediaman Gus Dur, Ciganjur.

“Gus Dur adalah tempat berlindungnya para aktivis dari tahun 80-an. Termasuk korban 27 Juli 96 dan aktivis 98,” tambahnya.

Pembicara selanjutnya Ala’i Najib dari sudut pandang aktivis Gender. Menurutnya, memang Gus Dur tidak secara khusus mengonsentrasikan diri terhadap isu-isu gender. Tapi kita masih tetap bisa menimba dari pemikiran dan tindakannya. Dari pemikiran, Gus Dur selalu mengedepankan keadilan untuk semua tanpa memandang agama, ras, golongan dan jenis kelamin.

Sementara dari tindakannya, Gus Dur adalah sosok yang dikelilingi lima perempuan (istri dan keempat putrinya). Pada praktiknya, ia sangat menghormati mereka. Sudah menjadi kisah populer bagaiamana Gus Dur mengganti popok anak-anaknya ketika Ibu Shinta tertidur. Gus Dur langsung praktik dan tidak dengan hiruk-pikuk teori gender yang sulit. Bahkan dengan guyonan.

“Perempuan itu kuat. Bayangkan saja Nyonya Meneer (merk jamu, red) sudah berdiri sejak tahun 1934.”

Ulin Nusron dari Aliansi Jurnalis Indevenden (AJI) bersaksi: Gus Dur adalah Satu orang dari beberapa orang ditangisi kepergiannya. Selain kagum akan pemikiran dan tindakannya yang berani, ia pernah punya pengalaman khusus bersama Gus Dur di Ciganjur. Gus Dur menonton bola, meski ia tidak bisa melihatnya. Ia bisa menganalisis permainan melebihi yang bisa menonton.

Acara dijeda dengan buka puasa dan sembahyang Maghrib. Setelah itu, dilanjutkan dengan testimoni Jerry Sumampow. Menurutnya, tokoh yang pluralalisme itu banyak. Tapi yang sampai pada titik praktis dan teknis serta konsistensi yang tak ada akhir, nyaris tidak ada. Inilah istimewanya Gus Dur. Dia tulus dan jujur dalam perjuangannya membela kalangan minoritas.

Acara diakhiri dengan mengirim doa lintas iman untuk Gus Dur. Dari muslim diwakili Muhammad Rifa’i, dari Kristen oleh Jerry Sumampouw, dari Bahai olah Muthe. Dilanjutkan Johanes (Katolik) Sures (Hindu), Agus (Budha), dan Wicandra (Konghucu).

Acara berakhir pukul 20.00, dilanjutkan dengan tahlilan yang dipimpin KH Misbahul Munir dan langsung tarawih berjamaah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: