Harlah 90 Tahun NU: Perjuangan Belum Selesai!

JAKARTA – Sembilan puluh tahun tentunya perjalanan amat sangat panjang NU dalam memperjuangkan umat dan bangsa, hari ini, Senin (27/5/2013) peringatan Hari Lahir NU (Harlah NU) yang ke-90 tahun, banyak seruan-seruan semangat dari berbagai elemen NU, salah satunya generasi muda NU DKI Jakarta KH Zuhri Yakub.

“NU lahir dari ulama sebagai respon terhadap segala persoalan keumatan secara umum dan kebangsaan yg masih dalam masa penjajahan,” katanya.

Kemerdekaan negara tercinta, Republik Indonesia diakui tidak terlepas dari perjuangan NU dalam melawan penjajahan

“Sejarah telah mencatat peranan NU yang tidak terbantahkan dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan pesantren sebagai basis utamanya,” kata Zuhri.

Keberhasilan NU diakui secara Internasional dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan NKRI.
“NU telah mampu menjalankan peran dalam kehidupan berbangsa sebagai perekat di tengah kebhinekaan dengan mengusung semangat Rahmatan lil Aalamin bahkan NU telah menganggap NKRI adalah harga mati,” tambah Zuhri Yakub.

Pesantren adalah wadah, wajah sekaligus simbol NU dalam menciptakan dan mencetak penerus generasi bangsa yang harus terus diperjuangkan dan dilestarikan keberadaannya.

“NU selalu tampil di barisan depan dalam mencerdaskan bangsa melalui pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non formal dan memberikan kontribusi besar dalam mempersiapkan kader-kader berkualitas untuk membangun umat dan bangsa,” ujar kiai muda

Dalam usianya (NU) yang ke-90 tahun tentunya banyak berbagai macam persoalan dan tantangan dalam memperjuangkan umat dan bangsa, sejalan dengan usia tersebut tentunya NU semakin kokoh dalam menghadapi segala tantangan.

“Perjuangan NU tidak akan pernah boleh berhenti, di usia yang ke-90 ini NU harus mengambil semangat dan keikhlasan para pendiri untuk berusaha maksimal dan berperan aktif menuntaskan persoalan – persoalan keumatan maupun kebangsaan, seperti keterpurukan ekonomi dan kesenjangan, kekacauan politik, degradasi moral, konflik horizontal sampai kepada adanya agenda asing yang setiap saat bisa mengancam eksistensi NKRI,” katanya

Ancaman serius derasnya arus budaya asing yang cepat atau lambat akan merusak budaya bangsa yang luhur dan menyimpang dari tuntunan kebenaran agama.

“Kita tidak menolak budaya asing secara membabi buta tapi kita harus selektif mengadopsinya, selama itu bagus untuk kemajuan dan membawa maslahat kenapa tidak, tapi sayangnya saat ini Barat selalu menjadi kiblat padahal budaya mereka belum tentu cocok dengan kita, sebagai bangsa maupun sebagai umat, dimana budaya hedonistik menjadi acuan, akal dan nafsu sering dijadikan sebagai Tuhan sehingga seringkali mengabaikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Intinya kita tidak menolak modernitas tapi kita menolak  yang buruk dari manapun datangnya. Upaya penyadaran umat menjadi semakin penting tapi jauh lebih penting lagi adalah keteladanan para tokoh dan pemimpin untuk membangun budaya bangsa yang sesuai dengan norma agama dan nilai-nilai luhur budaya lokal,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: