Harlah GP Ansor 79 Resmi Dimulai dengan Festival Budaya Pesantren

JAKARTA – Festival Budaya Pesantren menandai awal harlah ke-79 Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Acara itu digelar di Gedung Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Festival Budaya Pesantren dipandu oleh pembawa acara Al-Zastrouw dan Cak Lontong. Sedikitnya 1500 malam itu kerap dibuat terpingkal-pingkal oleh pembawaan keduanya yang selalu memelesetkan kata ‘bid‘ah’ pada sesuatu yang bukan tempatnya.

Festival dibuka dengan lantunan Mars Ansor, Mars Banser, dan Mars Nahdlatul Wathan oleh grup paduan suara Banser Bandung Barat. Lantunan mars itu diikuti dengan penampilan grup rampak bedug yang terdiri dari 16 personel asal Pandeglang, Banten. Dengan enam bedug dan kentungan bambu, grup rampak bedug membawakan lagu Sholawat Badar dan sejumlah lantunan khas warga NU.

“Festival ini merupakan awal dari rangkaian harlah ke-79 GP Ansor. Puncaknya diselenggarakan 10 November yang berbarengan dengan Hari Pahlawan di Jawa Timur,” kata Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid berjaket loreng Barisan Ansor Serbaguna (Banser) saat sambutan pembukaan di atas panggung.

Kegiatan dilanjutkan dengan lantunan sejumlah tembang warga NU seperti Syair Tanpo Wathon dan Ilir-Ilir oleh dua penyanyi wanita yang diiringi oleh Grup Musik Ki Ageng Ganjur.

Pembacaan puisi dilakukan secara bergantian mulai dari penyair Acep Zamzam Noor dan KH D Zawawi Imron. Sementara Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD membawakan puisi M Iqbal yang berjudul “Parlemen Setan”.

Sedangkan Butet Kertaradjasa mementaskan monolog. Dalam monolog imajinernya, ia memerankan gaya bicara presiden RI dari setiap periode yang tengah berkumpul menghadapi hidangan ayam panggang. Peniruan gaya bicara para presiden merebut perhatian para hadirin.

Sebelum Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus memberikan taushiyah budaya, penyanyi Edo Kondologit membawakan lagu “Di Bawah Tiang Bendera” karya Franky Sahilatua. Para hadirin turut menyanyikan lagu yang bernafas persaudaran tanah air dan kebangsaan itu.

Festival Budaya Pesantren ditutup dengan pidato budaya oleh Gus Mus sebelum akhirnya membaca bersama sholawat Barzanji pada saat mahallul qiyam. Pidato budaya Gus Mus menyinggung moralitas budaya masyarakat desa yang kian bermental kekota-kotaan.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)