Hataman Abijamroh dan Tafsir Yasin di Ponpes Ma’hadut Tolabah

Tegal, NU Online

Tidak seperti biasanya pemandangan di pondok pesantren Ma’hadut tolabah yang terletak di Babakan Lebaksiu kab Tegal, agak berbeda dari biasanya. Sore itu ribuan warga mendatangi masjid di komplek pondok pesantren tersebut. Ternyata mereka mengikuti hataman kitab Abijamroh dan tafsir Yasin yang dibaca pada setiap bulan Ramadhan.

Acara hataman kitab Abijamroh dan tafsir Yasin menjadi acara rutin  pondok pesantren Ma’hadutolabah di bulan Ramadhan yang dirangkai dengan acara haul KH Mufti, pendiri pondok pesantren. Jadi setiap tanggal 20 Ramadhan, pengajian kitab pasaran ditutup, dilanjut acara haul.

Acara ini banyak dihadiri warga kampung disini dan alumni luar kota baik dari Brebes, Pemalang, Purwokerto, Cirebon dan kota lain,” kata gus Akib Malik putra salah satu pengasuh ponpes Ma’hadutolabah, Senin (21/8) di sela-sela acara tersebut. Menurut Akib, acara ini banyak ditunggu warga karena disamping acara hataman kitab dan haul pendiri pondok juga acara buka bersama yang dihadiri oleh alumni dari lintas generasi karena pondok ini berdiri sejak 1916 jauh sebelum kemerdekaan dan sebagai pondok tertua di kab. Tegal.

 

“Saya berharap tradisi seperti ini akan terus berjalan sebagai antisipasi gerakan Wahabianisme yang sudah mulai masuk ke kampung-kampung disekitar kita. Pondok Pesantren adalah benteng terakhir dalam mempertahankan tradisi Ahlussunah waljamaah ala NU karena dari sanalah pesan-pesan agama yang rahmatan lilalamin, toleran, moderat dan akomodatif bisa didapatkan. Jadi agama itu tidak menyeramkan,” kata Akib yang juga aktif di PP Lakpesdam Sekedar diketahui, ponpes Ma’hadut Tolabah Babakan Tegal, didirikan oleh KH Mufti bin Salim pada tahun 1916.

 

KH Mufti adalah seorang ulama asal desa Balapulang kab Tegal. Beliau diambil menantu oleh K Sulaiman seorang Bekel (kepala desa) Jatimulya. KH Mufti merintis kegiatan keaagamaan sejak 1913 yakni dengan membuka kegiatan pengajian umum di masjid Dukuh Babakan. Ternyata kegiatan keagamaannya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyrakat sehingga kurang lebih dua tahun dari mulai pengajian dimulai, sudah mendirikan pesantren Ma’hadutolabah. KH Mufti mempunyai karya kitab (tulis) yang hingga sekarang masih dikaji di pesantren tersebut bernama Mu’taqod yang berisi intisari Tauhid.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: