Haul KHR Asnawi Kudus Digelar Khidmat

KUDUS – Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengatakan, peringatan tahunan (haul) para ulama atau leluhur dimaksudkan untuk mengharap keberkahan. Umat Islam harus menata niat dan berdo’a agar mendapat keberkahan dari ulama yang diperingati wafatnya.

“Seperti kita memperingati Haul mbah Asnawi ini, semoga kita semua mendapat barokah dari beliau dengan diperpanjang umur kita, diberi rizki yang halal, terhindar dari balak dan besok pada hari akhir khusnul khatimah,” katanya saat menyampaiakan taushiyah dalam acara Tahlil Umum dalam rangka peringatan haul KHR. Asnawi , Jum’at siang (3/5).

Tahlil umum yang berlangsung di Makam KHR Asnawi (komplek makam menara Kudus) ini, dihadiri puluhan kiai dan ulama Kudus diantaranya Mustasyar PCNU Kudus KH.Ulin Nuha Arwani Habib Alwi Baagil, Katib PCNU Kudus KH. Ahmadi Abdul Fatah dan ratusan Nahdliyyin.

Lebih lanjut, Kiai kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini mengatakan perjuangan KHR Asnawi merupakan sosok yang luar biasa. Selain rajin mengajarkan ilmu agama, KHR Asnawi tekun berjuang mengembangkan Nahdlatul Ulama.

“Dalam NU mbah Asnawi menjadi musytasar PBNU semasa Rois Akbar-nya KH.Hasyim Asy’ari. Pada waktu itu usianya lebih sepuh dari Mbah Hasyim,” tuturnya.

Mbah Sya’roni menyatakan KHR Asnawi termasuk salah satu keturunan Sunan Kudus yang ke 13. Diantara peninggalannya yang masih bertahan, Madrasah Qudsiyah dan pondo pesantren Raudhotut Thalibib Bendan Kudus.

“Hingga kini keduanya masih bertahan serta dimanfaatkan mengembangkan ilmu agama oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya,” terangnya.

Ditambahkan, peringatan haul mbah Asnawi menggunakan pedoman tarikh yang ditulis dalam huruf hidup oleh Ahli Falaq Kudus almarhum KH.Turaikhan Adjhuri yang berbunyi ‘Isy Ghoththii (hiduplah untuk melindungi masyarakat).

“Kalau dihitung sesuai dengan tahun wafatnya mbah Asnawi 1379 sehingga kalau dihitung sekarang haulnya sudah yang ke 55,” jelas KH. Sya’roni.

Pada kesempatan itu, pengasuh pengajian Jum’at pagi masjid Menara Kudus ini menerangkan para pejuang agama yang sudah wafat, sebetulnya ruhnya masih hidup. Bila terdapat hal kurang baik, pejuang itu masih mengingatkan dengan menemui orang yang dicintainya melalui mimpi.

“Ketika kiai Alwi Kudus berziarah ke sebuah makam dan lupa membacakan al Fatihah untuk sunan Kudus, kiai Alwi ditemui dan ditegur Sunan Kudus , kenapa tidak membacakan Fatihah untuknya,” imbuh Mbah Sya’roni mencontohkan.

Kegiatan Tahlil Umum ini merupakan salah satu rangkaian acara peringatan Haul ke 55 pendiri NU asal Kudus KHR Asnawi yang berlangsung sejak Kamis-Sabtu (3-5/5). Diawali khotmil al Qur’an bil Ghoib Kamis malam di Ponpes Bendan, khotmil qur’an bin nadhor di makam Mbah Asnawi Jum’at pagi dilanjut Tahlil umum pada siang harinya.

Pada Jum’at malam, pengajian umum bersama Habib Umar Muthohar dari Semarang. Kemudian Sabtu (4/5) disemarakkan dengan sepeda santai yang diikuti ribuan siswa-siswi madrasah Qudsiyyah start-finis lapangan madrasah Qudsiyah Jl KHR Asnawi Kudus.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: