ICIS Akan Gelar Konferensi Tokoh Lintas Agama se-Asia

JAKARTA – DKI Jakarta akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pemimpin Keagamaan ASIA pada 25 Februari sampai dengan 1 Maret mendatang.

Konferensi bertajuk ‘Bringing A Commom Word to Common action for justice’ yang bakal dihelat di Hotel ACACIA, Jakarta Pusat itu diharapkan dapat membangun komitmen bersama antara para pemimpin keagamaan se ASIA, dari kalangan Muslim dan Kristen.

“Konferensi Ulama dan Arcbishop se Asia ini dihadiri 150 ulama dan Arcbishop dari 15 negara. INi merupakan kelanjutan dari pertemuan ICIS (International Conference of Islamic Scolars) di Singapura, beberapa tahun lalu,” ujar Ketua Panitia The Conference of Muslim-Christians Religious Leaders of Asia, M Nasihin Hasan, Selasa (19/2).

Dikatakan Nasihin, Konferensi yang diinisasi oleh ICIS itu, akan membahas sejumlah hal krusial di Negara-negara Asia, terutama terkait ketegangan antar agama, ketimpangan hukum, kemiskinan, hingga persoalan korupsi dan perdagangan manusia yang sampai saat ini masih marak terjadi di berbagai Negara di Asia.

“Agama seharusnya bisa menjadi spirit utama dalam penegakan keadilan dan pemberantasan kemiskinan. Dalam konferensi ini, para tokoh agama diharapkan bisa bersama merumuskan wacana dan aksi bersama untuk mengatasi problem keadilan dan persoalan perdagangan manusia yang menjadi masalah besama Asia saat ini,” ujarnya.

Sementara Sekjend ICIS KH Hasyim Muzadi mengatakan meskipun berbeda secara theologist, setiap agama sejatinya punya titik temu dalam hal ajaran tanggung jawab sosial dan moral. “Setiap agama ada titik temu. Tetapi juga ada titik pisah. Kita perkuat titik temunya,” ujar Rais Syuriyah PBNU itu.

Pertemuan tersebut, kata Hasyim juga merupakan bagian dari Konferensi ICIS yang dilaksanakan rutin sejak tahun 2004 lalu.

“ICIS selama tiga kali berturut-turut. Tahun 2004,2006 dan 2008 ICIS aktif mengadakan pertemuan dengan tokoh agama dari 87 negara. Alhamdulillah ini semakin diterima. Sebelumnya dalam 3 kali pertemuan itu hanya muslim. Sekarang interfaith,” paparnya.

Pertemuan itu juga untuk menegaskan kepada dunia internasional bahwa stigma tentang tingginya intoleransi di negeri ini adalah pandangan yang tak proporsional.

”Walaupun agak sulit karena karena dunia internasional menilai dengan sekularisasi dan pandangan atheism. Sementara di Indonesia kita melihat dengan kacamata pancasila dan keberagamaan,” ujarnya.

Selama ini kata Hasyim banyak pengamat agama yang tak turun ke bawah. Banyak peneliti yang kerjanya mencatati konflik tanpa memperbaiki.

“Konfllik agama tak berarti dilatarbelakangi pemikiran intoleransi,” tandasnya. Konferensi tersebut dihelat ICIS bekerja sama dengan Koferensi Wali Gereja di Indonesia (KWI) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Federas Bishop Asia (FABC) dan Konferensi Kristen Asia (CCA).

Menteri Agama RI Suryadharma Ali direncanakan akan didapuk membuka acara. Konferensi yang berlangsung selama lima hari itu akan menampilkan pembicara-pembicara dari berbagai negara dengan keynote speaker (pembicara kunci) Ali Asghar Engineer.

Pembicara lainnya adalah Arbishop Ferdinand Capalla (Filipina), Arbishop Felix Macado (Hongkong), KH Hasyim Muzadi (Sekjen ICIS), Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Komarudiin Hidayat, Prof. Dr. Azyumardi.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: