Imlek 2562: A Tribute to Gus Dur

Tahun ini Perayaan Imlek memasuki tahun ke 2562 sebagai Tahun Kelinci dalam penanggalan Tionghoa. Hari ini (3 Februari 2011) seluruh masyarakat Tionghoa Indonesia merayakan pergantian tahunnya. Ada satu tokoh negeri yang dulu memperjuangkan hari Imlek sebagai Hari Libur Nasional, hingga akhirnya disepakati secara legitimasi pada Januari 2001 lalu. Ialah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tokoh Nahdlatul Ulama dan Mantan Presiden Republik Indonesia yang akrab bagi kalangan masyarakat Tionghoa Indonesia. Tindakan Gus Dur mengesahkan hari libur bagi masyarakat Tionghoa Indonesia kemudian diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Gus Dur sontak mendapat pujian dari berbagai komunitas Tionghoa tanah air.

Nampaknya perayaan Imlek tahun ini akan terasa kurang jika mengingat jasa-jasa Gus Dur bagi masyarakat Tionghoa. Kembali sejenak ke masa lalu, saat-saat orde baru tahun 1990-an lalu adalah masa-masa sulit kemerdekaan demokrasi masyarakat keturunan negeri Cina di Indonesia. Kebebasan berpendapat dikekang, bahkan beberapa komunias Tionghoa harus hidup secara sembunyi-sembunyi dan terbatas dalam hal keterlibatan pekerjaan birokrasi. Hampir tak ada orang keturunan Tionghoa dalam aparat pemerintahan saat itu.

Saat ini, demokrasi Indonesia yang semakin baik memberikan jalan cerah kepada Kaum Tionghoa tanah air. Hal itu pulalah yang menjadi awal terbentuknya kerukunan antarumat beragama yang santer beraksi saat ini demi perbaikan bangsa. Gus Dur, sudah memikirkan hal ini hampir sepuluh tahun lalu, saat ia menandatangani keputusan resmi tersebut. Saat itu ia mendapatkan banyak kontroversi dari pejabatnya sendiri, namun di mata Tionghoa tanah air, ia adalah pahlawan. Tak berlebihan jika Wahid ditasbihan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004. Ia pun dikenal sebagai Bapak Pluralisme, orang yang tak pernah mendiskreditkan agama manapun, seperti diamanatkan sebagai pluralitas (kebhinnekaan) dalam Konstitusi RI.

Semangat perjuangan kebersamaan Gus Dur akhirnya mewabah kemana-mana, seluruh penjuru tanah air. Walaupun pada 30 Desember 2009 lalu ia menyerah kepada takdir, kembali ke hadapan Yang Maha Kuasa.

Imlek tahun ini, di tengah-tengah kemeriahan dan kegembiraan masyarakat Tionghoa tanah air, semangat pluralisme Gus Dur tetap membara. Gong Xi Fat Cai!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)