Islam Paling Manusiawi?

Surabaya, NU Online
Tidak ada alasan bagi warga NU untuk rendah diri ketika berhadapan dengan Ormas lain. Dalam dunia pendidikan pun orang NU harus tetap bangga, karena pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif telah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Tapi sayang, rupanya masih juga ada orang NU yang salah menilai dirinya sendiri, dikira pendidikan di NU kurang bermutu. Padahal orang lain saja sudah menilai hebat.

“Serendah-rendahnya pendidikan di Ma’arif, ada standarnya,” kata Dr H Saerozi, MPd, Ketua LP Ma’arif NU Jawa Timur.

Orang NU yang masih kurang percaya dengan kemampuan dirinya sendiri, menurut Saerozi, rupanya masih terbawa dengan romantisme Orde Baru, dua puluh tahun silam. Memang, kala itu lembaga pendidikan di bawah naungan NU banyak ketinggalan dengan Ormas lain, karena pemerintah sedang berlaku tidak adil.

Pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif dianaktirikan, sementara pndidikan di bawah naungan Ormas yang pro Orde Baru menjadi anak emas. Tapi sekarang pemandangan itu sudah tidak terjadi lagi. Justru sebaliknya, pendidikan NU yang maju pesat.

Menurut lelaki asal Jombang itu, data pendidikan di Jawa Timur tahun ini tidak dapat dipungkiri lagi. Di Jawa Timur, sekolah swasta Islam yang berstandar internasional (SBI) dan diakui pemerintah hanya ada tiga; 2 milik NU, 1 milik Muhammadiyah, kelompok Masyumi malah belum punya hingga sekarang. Bahkan dua SMA terbaik di Jawa Timur saat ini, keduanya milik NU.

“Dalam indikator apapun, sebenarnya pendidikan di NU itu sudah hebat,” kata Saerozi saat ditemui di Kantor PWNU Jawa Timur. Orang yang masih merasa minder itu, menurut Saerozi, sudah tidak tidak jaman lagi, nuansa Orde Baru harus dihilangkan.

“Berarti pikirannya sudah ketinggalan 20 tahun, harus di-up date lagi, karena sudah ketinggalan jaman,” tutur lelaki yang suka bergurau itu.

Di sisi lain, menurut Saerozi, Islam ala NU merupakan Islam paling manusiawi, paling mudah bergaul, memiliki elastisitas yang sangat tinggi dengan budaya setempat dan tidak mudah marah. Kebanyakan orang muallaf, menurut Saerozi, masuk Islam karena dakwah model NU. Tidak diceramahi, tapi diundang tahlilan, diajak dziba’an, diajak selamatan, haul, dlsb. Lama-lama mereka tertarik, lalu masuk Islam.

“Dakwah model NU lebih mengena, karena langsung dari hati ke hati,” tuturnya. “Banyak bukti menunjukkan bahwa NU adalah komunitas Islam paling menyenangkan dan paling manusiawi,” jelas Saerozi. Makanya sudah tidak jaman lagi orang yang masih kurang percaya diri dengan keadaan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: