Ketum ISNU: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Semu

JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa mengkritik pemerintah yang mengklaim kesuksesan pembangunan Indonesia di bidang ekonomi. Menurut dia, klaim tersebut tidak benar-benar nyata.

“Saya bangga Indonesia pertumbuhan ekonominnya 6.3 hingga 6,4 persen. Investasinya juga sangat signifikan tiga tahun berturut-turut. Tetapi, saya katakan, investasi dan pertumbuhan itu semu karena tidak didasarkan pada sektor riil di bawah,” ujarnya.

Ali Masykur mengatakan hal itu pada forum refleksi kebangsaan “Nasionalisme di Simpagn Jalan” yang diselenggarakan Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (19/7) petang. Turut hadir  guru besar Universitas Jayabaya Rusydi, para kader muda NU, dan sejumlah komunitas di Jakarta.

Kesemuanya itu, menurut Ali Masykur, karena wujud pertumbuhan di level UMKM melainkan lebih banyak di pasar modal. Posisi pasar modal dinilai sangat rapuh karena ia bukan investasi langsung berjangka panjang lantaran tergantung, misalnya, pada faktor politik internasional.

Dia mengingatkan tentang perlunya berhati-hati dengan jebakan klaim keberhasilan yang menggambarkan seolah-olah Indonesia menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia. Sebab, kesejahteraan rakyat belum benar-benar terjadi dan kedaulatan ekonomi masih jauh dari pangang api.

Ali Masykur menambahkan, kepemilikan kekayaan dalam negeri belum sejalan dengan semangat nasionalisme ekonomi Indonesia. “Karena 88 persen dari total K3S (kontraktor kontrak kerja sama) yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi migas di Indonesia itu bukan Pertamina,” paparnya.

Sementara itu Rusydi menggarisbawahi, problem pokok di Indonesia adalah pada penegakan hukum yang tidak adil. Persoalan kian runyam ketika pemerintah tak mampu bersikap tegas dan mudah dikendalikan kekuatan asing.

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: