Ketum PBNU: NU Kedepankan Kebersamaan

JOMBANG – Bagi Nahdlatul Ulama, semangat menjadi manusia yang lebih baik  harus dalam bingkai jamaah. Dengan demikian, tidak akan ada kesenjangan antara komunitas yang mengakibatkan ketidakharmonisan.

KH Said Aqil Siroj menandaskan bahwa para pendiri NU telah mengajarkan makna penting kebersamaan dalam hidup. Ahlul jama’ah adalah umat Islam yang mengedepankan kebersamaan atau kejamaahan. Kebersamaan baik dalam soal kesejahteraan ekonomi, kebersamaan sosial dan kebersamaan dalam seluruh aspek kehidupan.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PBNU ini pada paparan tentang Ahlussunnah Wal Jamaah di depan para peserta Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional atau Perwimanas di Pondok Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung Jombang (24/6).

Wawasan Aswaja ini disampaikan Kiai Said di halaman Masjid Pesantren Babussalam usai pembukaan Perwimanas. 

“Ahlul jamaah itu selama ini sudah dilakukan di NU,” katanya. “Pintar bersama-sama, tidak menganggap diri paling pintar, saleh bersama-sama tidak menganggap diri paling saleh. Sehat bersama, sejahtera bersama,” lanjutnya.

Lebih lanjut Kiai Said menuturkan, NU punya cara tersendiri untuk menjaga kebersamaan atau kejamaahan umat. Acara tahlil, dibaan, yasinan, hadrah dan lainnya adalah media yang tepat dalam menjaga keharmonisan dan kebersamaan umat.

Menurut Kiai Said, hal tersebut adalah salah satu yang membuktikan bahwa NU sebagai elemen bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai toleransi, saling menghormati satu sama lain. NU mengidamkan Indonesia yang rukun dan sejahtera di bawah naungan Pancasila.

“Adik-adik harus tahu, NU menjaga NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sejak 15 tahun sebelum kemerdekaan. Yaitu tahun 1930 pada muktamar NU di Banjarmasin,” tegas Kiai Said disambut gemuruh tepuk tangan peserta Perwimanas.

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: