KH Malik Madani: Tantangan Aswaja Kian Berat

SURABAYA – Era reformasi yang didalamnya diiringi globalisasi sangat terbuka bagi merebaknya sejumlah isme, khususnya di Indonesia. Pada saat yang bersamaan, di tanah air juga bermunculan sejumlah aliran keislaman produk lokal.

Efek dari kemunculan isme-isme ini mengakibatkan keberadaan Ahlussunnah wal Jamaah ala NU kian terjepit. Baik Islam yang beraliran kanan maupun kiri.

“Gerakan Islam kanan sering diidentifikasikan sebagai gerakan radikal yang biasa mengklaim kebenaran sebagai milik eksklusif mereka dan harus diperjuangkan dan diterima orang lain,” kata Katib Aam PBNU ini (18/5).

“Bila perlu kelompok ini melakukan paksaan bahkan teror untuk memaksakan ide dan gagasannya,” lanjutnya.

Bagi Malik Madani, apa yang dilakukan kalangan kanan ini bertolak belakang dengan gerakan Islam kiri (al-yasari) yang bernuansa liberal.

Pandangan ini disampaikan Malik Madani pada Seminar Keagamaan Pra Konferensi Wilayah NU Jawa Timur yang bertepatan dengan Harlah ke-90 NU. Seminar dengan tema Aswaja NU dan Tantangan Sosial Keagamaan di Tengah Perubahan ini menghadirkan Prof Dr Muhammad Baharun (MUI Pusat) serta Dr Noorhaidi Hasan (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan dimoderatori H Nur Hidayat (Wakil Sekretaris PWNU Jatim). Kegiatan diselenggarakan di lantai 3 gedung PWNU Jatim.

Di hadapan undangan dari sejumlah PCNU se Jawa Timur ini, Malik menandaskan bahwa gerakan Islam kanan transnasional secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan basis perjuangan, yakni gerakan Islam kanan yang berbasis purifikasi.

“Beberapa yang masuk kategori ini adalah Wahabi, Salafi, Taliban serta Jama’ah Tabligh dengan tradisi khurujnya.”

Tipe kedua adalah gerakan Islam kanan berbasis politik diantaranya adalah Al-Ikhwanul Muslimun, Al-Jama’ah Islamiyyah, Hizbut Tahrir al-Islami, Jamaah al-Islami serta Taliban.

“Sedangkan yang ketiga adalah gerakan Islam kanan berbasis kekerasan dan teror,” tandasnya.

“Beberapa yang masuk kategori ini adalah al-Qaidah, al-Jamaah al-Islamiyyah, Taliban, Wahabi Sururi serta Tanzimul Jihad,” tandasnya.

Kondisi ini kian diperparah munculnya gerakan-gerakan Islam kanan produk lokal seperti Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta Frtont Pembela Islam atau FPI.

Karena itu kalau kemudian di PWNU Jatim telah berdiri Aswaja NU Center, maka hal itu harus diapresiasi. “Rasanya Aswaja NU Center hanya ada NU Jawa Timur,” katanya.

“Dan ini harus disambut dengan sambutan meriah,” lanjutnya.

Dengan berdirinya Aswaja NU Center ini diharapkan kesadaran warga akan pentingnya melakukan pengkajian bagi Aswaja di segala tingkatan. Demikian juga bagaimana dari pengkajian tersebut dapat ditindaklanjuti dengan kesadaran kolektif seluruh jajaran NU di segala tingkatan.

“Namun demikian, dengan dunia yang kian berubah, harus mulai dipikirkan agar Aswaja NU dapat tetap up to date sehingga tetap dicintai semua kalangan, khususnya anak muda NU,” harapnya.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: