KH Miftah – KH Mutawakkil Kembali Pimpin PWNU Jawa Timur

SIDOARJO – Duet KH Miftahul Ahyar dan KH Mutawakkil Alallah dipercaya memimpin kembali NU Jawa Timur dalam pemilihan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah yang digelar Ahad (2/6) sore di Pondok Pesantren Bumi Sholawat Kompleks SMP Progresif, Lebo Sudoarjo.

Kiai Miftah terpilih secara aklamasi dengan memperoleh dukungan 41 suara dari 44 suara yang diperebutkan sesuai jumlah PCNU se Jatim, plus satu suara PWNU.

Dalam pemilihan rais syuriyah muncul tiga nama. Masing-masing mendapatkan 1 suara. Mereka adalah KH Marzuki Mustamar (ketua PCNU Kota Malang), KH M Hasan Mutawakkil Alallah (ketua tanfidziyah PWNU Jatim demisioner), Prof Dr KHM Ridwan Nasir (wakil rais syuriah PWNU Jatim demisioner).

Berbeda dengan pemilihan rais syuriyah, pemilihan ketua tanfidiyah cukup menegangkan. Perolehan suara antara Kiai Mutawakkil, dengan KH Dr Abdullah Syamsul Arifin terlihat cukup ketat. Satu demi satu suara untuk mereka berdua saling kejar. Namun, dengan 24 suara, Kiai Mutawakkil berhak untuk menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah untuk kali kedua.

Lewat persidangan yang dipimpin Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baidlawi, KH Abdullah Syamsul Arifin hanya mendapatkan 17 suara dari 44 PCNU se Jawa Timur. Ada satu suara yang dinyatakan tidak sah.

Sebelum pemungutan suara, kedua calon harus mendapatkan persetujuan dari rais syuriah terpilih yakni KH Miftachul Akhyar serta menandatangani kontrak jam’iyah.

Setelah mendapat persetujuan dari Kiai Miftachul Akhyar dan menyatakan bersedia menandatangani kontrak jam’iyah, pada tahap pemilihan silih berganti dukungan diberikan kepada keduanya.

“Dengan ini keduanya kami terima, dengan catatan tahu posisi dan tugas masing-masing,” kata Kiai Miftah.

Namun pada jam 17.03 WIB, ketika pimpinan sidang melakukan penghitungan, suara untuk Kiai Mutawakkil tidak dapat terkejar KH Dr Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab. Dengan demikian, Kiai Mutawakkil menjadi Ketua PWNU Jatim lima tahun mendatang.

Kendati suasana pemilihan cukup ketat, namun setelah pemilihan usai, suasana menjadi cair. Dua kandidat bersalaman dan berpelukan diiringi pembacaan shalawat yang menggema. Sebuah pertanda bahwa NU ke depan membutuhkan kekompakan dan kerukunan.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: