Launching Kerjasama Program PNPM-Peduli antara Lakpesdam NU & World Bank

Jakarta, NU Online
Terik panas laut nampak membekas jelas pada paras Bu Dariyah, seorang perempuan pesisir laut Indramayu. Dengan isak yang gemetar dan bahasa Indonesia yang bercampur bahasa Sunda ia menceritakan bagaimana dia dan puluhan perempuan pesisir laut Indramayu kebingungan dengan kondisi laut saat ini.

Belakangan suaminya yang seorang nelayan tidak lagi mendapat tangkapan. Jikapun melaut berhari-hari, hasil tangkapannya tak seberapa. Jangankan untuk dijual, dan hasil penjualannya disimpan untuk biaya 4 anaknya sekolah, untuk makan saja hasil tangkapan itu tidak cukup. 

Bu Dariyah mengungkapkan beban hidupnya kian hari kian sulit. Kesedihan perempuan 50 tahun yang tidak lulus Sekolah Dasar dan tidak bisa baca tulis itu terungkap dalam acara peluncuran program PNPM-Peduli yang diselenggarakan oleh PP Lakpesdam NU bekerjasama dengan Bank Dunia di Kantor PBNU (22/7/ 2011).

Dariyah banyak mendengar bahwa kondisi laut sekarang yang tak lagi menyediakan ikan yang melimpah karena disebabkan cuaca yang tidak menentu. Karena itu para nelayan termasuk suami Dariyah tidak lagi bisa membaca cuaca. Mereka melaut hanya disebabkan itulah satu-satunya kemampuan mereka mempertahankan hidup, hanya menangkap ikan.

Dariyah lalu berfikir apa yang bisa Ia lakukan untuk bisa bertahan hidup, agar mampu membiaya 4 anaknya, Dariyah bertekad harus berbuat sesuatu. Ia yakin apa yang dialaminya pasti sama dengan puluhan istri nelayan lainnya. Maka Ia dan puluhan istri Nelayan mulai berkumpul dan berbicang apa yang bisa mereka lakukan.

Bersama 50 orang perempuan istri Nelayan yang sama-sama tak lulus SD Dariyah mulai berfikir untuk mencari pekerjaan alternatif, tidak hanya mengandalkan hasil melaut para suami. Membuat baso ikan adalah keahlian yang dimiliki oleh sebagian besar istri para nelayan.

Dengan keterbatas sumber dana dan keahlian yang dimiliki, akhirnya mereka membuat bakso ikan dan pemasarannya pun masih terbatas.

“Dengan program PNPM-Peduli kami berharap ada peningkatan pada produksi bakso ikan, kami juga tahu cara menjualnya agar lebih luas,” ungkapnya penuh harap.

Apa yang diungkapkan oleh Dariyah tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Aris, Bapak 34 tahun buruh PT Garam di Madura. Lelaki itu menceritakan Ia dan sekitar 50 puluhan buruh garam sampai saat ini tidak bisa keluar dari berbagai himpitan kemiskinan.

Penghasilan 150 ribu per minggu dari PT Garam tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka, bahkan hanya sekedar untuk makan. Menjadi buruh garam hanya dilakukan ketika kemarau saja, setelah itu Aris dan buruh-buruh lainnya memilih untuk mencari kerang di laut dengan penghasilan 5 ribu rupiah sehari.

Ia menceritakan bahwa sebenarnya jika saja mereka menjadi petani garam, dan bukan buruh garam mereka mungkin akan jauh lebih baik. Menjadi petani garam tidak bisa mereka lakukan karena mereka tidak memiliki lahan tambak. Disamping itu mereka tidak memiliki pengetahuan membuat garam yang sangat bagus dan menjual ke pasar yang lebih luas.

Aris dan buruh lainnya bukan tidak pernah berfikir untuk mencari pekerjaan lain, atau sampingan lain tapi mereka selalu mentok pada modal dan kemampuan. Sepanjang usia hanya menjadi buruh garam dan pencari kerang membuat mereka kesulitan mencari pekerjaan lain.

Setelah mendengarkan testimoni masyarakat yang akan menjadi penerima manfaat program PNPM-Peduli, Prof Dr Kacung Maridjan, ketua PBNU mengungkapkan bahwa kemiskinan masih mendera banyak rakyat Indonesia.

“Namun dengan optimisme dan berkerja bersama kemiskinan itu akan mampu diatasi,” ungkapnya penuh semangat. Ia juga menambahkan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah kesungguhan dari semua pihak untuk terus mengurangi kemiskinan. Dan program PNPM-Peduli menjadi salah satu kerjasama yang harus terus ditingkatkan. PBNU selaku ormas keagamaan memiliki komitmen kuat untuk melakukan pengurangan kemiskinan.

Lakpesdam NU menjadi salah satu executing organization yang mendapatkan hibah dana dari world Bank untuk program PNPM-Peduli. Lakpesdam NU akan melakukan peningkatan kapasitas kepada cabang-cabang lembaga NU agar cabang-cabang NU mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin dan kelompok marginal.

Diharapkan cabang-cabang lembaga/banom NU akan mampu bekerjasama dengan masyarakat miskin dan kelompok marginal dalam melakukan pengurangan kemiskinan. Program ini akan bekerja di 11 Propinsi yakni di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Lampung, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTB, DIY, Maluku. Dan ada sekitar 30 Kabupaten/Kota dan 150 Desa yang tercover dalam program. Pada tahap awal, program ini berdurasi selama satu tahun yakni dimulai pada Juni 2010 dan akan berakhir pada Mei 2012.

2 thoughts on “Launching Kerjasama Program PNPM-Peduli antara Lakpesdam NU & World Bank”

  1. endang harianto

    Kerjasama antara POKJA PNPM Mandiri Peduli dengan LKAPESDAM NU dan World Bank sebuah bentuk kerjasama yang baik dalam upaya mengentaskan kemiskinan bagi kelompok masyarakat yang termarjinalkan. Sebagai bentuk konkritnya program ini dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang selama ini tidak mendapat perhatian penuh dari pihak-pihak pelaksana pembangunan. Oleh karena itu, program ini hendaknya dapat terealisasi sampai kedaerah – daerah terutama di Sumatera Utara khususnya Kota Tanjungbalai yang penduduknya lebih dari 30% dari jumlah penduduk 167.500 jiwa berprofesi sebagai nelayan, makanya Kota Tanjungbalai dijuluki Kota Kerang yang berada di Pantai Timur Sumatera dengan tingkat kemiskinan mencapai 18.6 % dari jumlah penduduk. ( endang harianto sekretaris PC Lakpesdam NU Tanjungbalai )

    1. terimakasih atas tanggapannya Kang Harianto, semoga PNPM Mandiri di Tanjungbalai dan seluruh Indonesia bisa diserap dg baik oleh Lakpesdam NU dan Masyarakat pada umumnya, tidak sekedar ‘shodaqoh politik’ dari penguasa. amin

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: