Mahfud MD: Saatnya Kembalikan Pemilukada ke DPRD

Kisruh pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pemilukada) yang tidak kunjung usai hendaknya menjadi perhatian semua pihak untuk mengambil langkah penyelamatan. Di antaranya dengan mengembalikan proses pemilihan kepala daerah kepada wakil rakyat.

Penegasan ini disampaikan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD kepada sejumlah media Ahad (13/10) malam. Mahfud MD hadir di Malang Jawa Timur dalam rangka mengikuti diskusi publik, Politik versus Konstitusi di Universitas Islam Malang (Unisma).
Mahfud MD menandaskan sudah saatnya Pemilukada dikembalikan kepada DPRD masing-masing daerah dengan tidak lagi dilakukan dengan sistem pemilihan langsung kepada masyarakat. Bagi guru besar Tata Negara ini, dengan menggunakan pemilihan langsung Pemilukada lebih memiliki dampak mudharat yang lebih besar bila dibandingkan dengan perwakilan.

Hal yang tidak terhindarkan adalah penyalahgunaan kekuasaan oleh parta berkuasa hingga pembelahan sosial kerap terjadi ketika pemilukada dilakukan dengan sistem pemilihan langsung.

Penyalahgunaan kekuasaan sudah sangat terstruktur dan masif dilakukan orang-orang yang punya kepentingan, terlebih mereka yang berkuasa.

“Kalaupun ada penyelewegan, pembuktiannya sulit,” katanya. “Demikian juga pengadilan yang menangani sehingga putusannya tidak bersifat kriminal dan tidak membatalkan putusan politiknya,” lanjutnya.

“Saya setuju Pemilukada dikembalikan saja ke DPRD masing-masing daerah,” kata mantan Menteri Pertahanan era Gus Dur ini.

Kendati demikian, pria kelahiran Sampang ini tidak memungkiri jika dikembalikan ke DPRD terjadi deal-deal politik yang mengarah suap di tingkat para elit.

Namun Mahfud optimis dengan keberadaan media yang akan mampu mencegah dan mengungkap transaksi kotor berupa suap antarelit itu.

“Pengawasannya lebih terarah oleh para media,” katanya. “Ini yang menurut saya sangat pas untuk pemilukada,” sambungnya.

Saat itu sejumlah wartawan menanyakan kasus Ketua Mahkamah Konstitusi non aktif, Akil Mukhtar. Namun ternyata Mahfud merasa pertanyaan itu tidak penting untuk disampaikan atau dijawab.  “Sudah bosan dengan masalah Akil, tanya yang lain saja,” tandasnya.  Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: