NU-Muhammadiyah Setuju Revisi Batas Minimal Usia Dalam UU Perkawinan

Jakarta: Terkait tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), dua ormas Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menyatakan setuju perlunya revisi usia nikah pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

“NU setuju terhadap perubahan batas usia perkawinan dari usia 16 tahun ke usia 18 tahun atau setara dengan tamat SLTA bagi laki-laki dan perempuan. Selain menyangkut mengenai reproduksi yang belum siap juga menyangkut tingginya kematian ibu dan bayi,” kata Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdatul Ulama (LKKNU) Sultonul Huda ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Menurut Huda, idealnya usia perkawinan mestinya setara dengan tamatan sarjana S-1. Usia dewasa dalam Islam, kata dia memang batasannya aqil balig, biasanya bagi perempuan usia 12-14 tahun. Namun demkian, perlu disadari bahwa usia 12-14 tahun saat sekarang masih belum dapat menjalani kehidupan rumah tangga (RT).

“Usia dini yang menikah rata-rata banyak bercerai karena ketidakmampuan menanggung beban RT, apalagi kalau mempunyai anak. Kemampuan dan kedewasaan dalam rumah tangga sangat penting menyangkut bagaimana mengarungi bahtera rumah tangga secara baik, mendidik anak, mencari nafkah, karakter building RT, kesehatan, bersosial, dan lain-lain,” ungkapnya.

Menurutnya kemaslahatan keluarga adalah bagaimana sebuah keluarga itu mampu menjalani rumat tangganya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. “Inilah yang disebut keluarga maslahah,” ujarnya.

Menurut kami, untuk menghambat laju pertumbuhan penduduk dan kenapa suami-istri harus ber KB didasarkan tidak sekedar alasan kesejahteraan atau ekonomi tetapi menyangkut kualitas generasi berikutnya, terutama menyangkut perhatian, kasih sayang, membangun karakter, kualitas pendidikan anak yang menjadi tanggung jawabnya.

“Itulah kehidupan keluarga yang maslaahah sesuai dengan tuntunan ajaran Islam,” pungkas Huda.

Hal senada diungkapkan Ketua Bidang Hikmah PP Muhammadiyah, Nadjamuddin Ramly. Menurutnya UU Perkawinan memang harus direvisi dengan alasan akibat tingginya kematian ibu dan untuk menata kembali kependudukan Indonesia. Hemat dia, perubahan batas usia perkawinan idealnya bagi pria menjadi 25 tahun dan wanita menjadi 20 tahun.

“Hemat saya seorang wanita jika ingin menikah sebaiknya harus siap lahir dan bathin.Siap secara lahiriyah hal ini bermakna sang wanita sudah memiliki pengalaman hidup secara berjenjang seperti pengalaman sekolah dari SD hingga SMA di mana wanita dapat merasakan perkembangan fisiknya selama menapaki jenjang sekolah ditambah jika ia melanjutkannya ke Perguruan Tinggi. Di samping lahiriyah wanita juga diharapkan matang secara kejiwaan dan psikologis, sehingga perkembangan mentalnya mampu menghadap segala cobaan hidupnya secara terukur dan solutif,” kata mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah itu

Sumber: MetroTVNews

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)