Parlemen Inggris Tolak Tindakan Militer di Suriah

Para anggota Parlemen Inggris pada hari Kamis menyatakan penolakan mereka terhadap dilancarkannya tindakan militer di Suriah.

Penolakan itu merupakan kekalahan telak bagi Perdana Menteri David Cameron.

Pemerintah Inggris kalah hanya 15 suara dari Dewan Perwakilan Rakyat dalam upayanya untuk melancarkan “tindakan kemanusiaan kuat” terhadap dugaan penggunaan senjata kimia oleh pemerintahan Suriah.

Setelah hasil itu muncul, Cameron mengatakan kepada para anggota parlemen: “Saya melihat jelas bahwa Parlemen Inggris, yang mencerminkan pandangan rakyat Inggris, tidak ingin melihat Inggris melancarkan tindakan militer.”

“Saya menerima hasil itu, dan pemerintah akan menaatinya.”

Kekalahan yang dialami pemerintah Inggris itu meningkatkan kemungkinkan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sendirian terhadap pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad, yang dianggap bersalah atas serangan gas beracun mengerikan –yang diyakini telah menewaskan ratusan orang di wilayah pinggiran Damaskus, pekan lalu.

“Inggris tidak akan melibatkan diri dalam aksi militer apa pun,” demikian dipastikan oleh juru bicara kantor PM Cameron.

Sidang yang berlangsung selama tujuh jam di DPR Inggris itu memperlihatkan terpecahnya pandangan menyangkut apakah serangan militer terhadap pemerintahan Assad akan dapat mencegah penggunaan lebih lanjut senjata kimia, atau justru membuat konflik menjadi semakin buruk.

Cameron telah menegaskan bahwa Inggris tidak bisa berdiam diri begitu saja dalam menghadapi “salah satu penggunaan senjata kimia paling mengerikan dalam satu abad terakhir ini”.

“Jika kita tidak melakukan sesuatu, akan disimpulkan bahwa (senjata kimia) bisa digunakan lagi dan lagi, dalam skala yang lebih besar dan tanpa mendapatkan hukuman,” katanya di parlemen.

Namun, ia mendapatkan penolakan kuat dari oposisi, Partai Buruh maupun banyak anggota parlemen yang berasal dari partainya sendiri, Partai Konservatif.

Para penentang menyampaikan kekhawatiran mereka bahwa Inggris terburu-buru maju perang tanpa memiliki bukti-bukti meyakinkan bahwa Assad memang telah benar-benar melakukan serangan gas terhadap rakyatnya sendiri.

Cameron mengakui bahwa tidak ada “kepastian 100 persen” tentang siapa yang melancarkan serangan itu, namun ia mengatakan “tidak bisa dipungkiri” bahwa pemerintahan Suriah merupakan pihak yang bertanggung jawab.

Komite Intelijen Bersama Inggris pada Kamis mengeluarkan bukti yang mengatakan bahwa senjata kimia tertentu memang telah digunakan pada 21 Agustus lalu dan lebih dari 300 orang tewas.

Komite itu menambahkan “sangat memungkinkan” bahwa pemerintah Suriah merupakan pihak yang bertanggung jawab atas penggunaan senjata tersebut.

Pemerintah Assad telah membantah bahwa pihaknya melakukan serangan itu dan sebaliknya menunjuk kesalahan kepada pasukan pemberontak.

Partai Buruh Inggris telah mengajukan sebuah gerakan alternatif untuk mendapatkan bukti kuat –bahwa rezim Assad telah melancarkan serangan– sebelum Inggris menentukan tindakan militer dalam bentuk apa pun. Usulan gerakan itu juga mengalami kekalahan.

Para anggota parlemen menjalankan sidang setelah diminta datang dari jeda musim panas mereka guna melakukan pembahasan darurat.

Sidang hari Kamis itu berakhir dengan pemungutan suara yang menghasilkan suara penolakan 285:272 terhadap permintaan pemerintah untuk melakukan tindakan militer terhadap Suriah.

Sementara itu Amerika Serikat pada Kamis menegaskan bahwa Washington siap bertindak sendiri dalam melancarkan serangan hukuman terhadap Pemerintah Suriah –yang bersenjata kimia.

Presiden Barack Obama mengatakan dugaan penggunaan senjata kimia dalam skala besar oleh rezim Assad merupakan ancaman bagi keamanan AS serta kejahatan terhadap rakyat Suriah.

Kapal-kapal AS yang dipersenjatai dengan sejumlah peluru kendali sedang dikumpulkan di Mediterania timur.

Pejabat-pejabat militer AS mengatakan mereka siap meluncurkan serangan kuat bertubi-tubi terhadap target-target rezim Assad di Suriah.

Sekutu Assad, Rusia, telah menghadang segala upaya bagi dijatuhkannya sanksi internasional terhadap Damaskus ataupun mensahkan kekuatan asing untuk menghukum atau menyingkirkan rezim Suriah.

Suriah berada dalam perang saudara ganas yang telah berlangsung selama 29 bulan yang, menurut laporan, telah menelan 100.000 korban jiwa.

Sebuah tim pemeriksa PBB sedang menyelidiki laporan-laporan –yang dipercayai oleh pemerintahan-pemerintahan Barat– bahwa serangan gas pekan lalu di luar Damaskus telah menewaskan lebih dari 350 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon telah meminta agar para pemeriksa PBB dibiarkan untuk menyelesaikan misi mereka terlebih dahulu sebelum negara-negara utama memutuskan tindakan apapun.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: