Perayaan Kemerdekaan Indonesia secara Virtual

Jakarta, NU Online
Dalam rangka memperingati kemerdekaan RI, kita biasa menyaksikan berita para pendaki gunung upacara bendera merah putih disaksikan kicau burung dan semilir angin di atas ketinggian ratusan meter dari permukaan laut.

Kita juga melihat di televisi misalnya, para penyelam, menyelimuti tubuhnya dengan merah putih disaksikan di antara ikan beraneka ragam, di kedalaman puluhan meter dari darat.

Di darat, kita semua kayaknya merasakan mengikuti upacara bendera yang digelar di lapangan-lapangan. Upacara formal diikuti pernik-pernik yang tak kalah gegap-gempitanya. Ada lomba panjat pinang, balap karung, makan krupuk, hingga dangdutan dengan lagu yang tak ada sangkut-pautnya dengang lagu wajib.
Di pesantren lain lagi, biasanya mereka tidak upacara, melainkan tahlilan, mengirim doa buat para arwah pahlawan, dan kebaikan bangsa.

Kini di zaman teknologi komunikasi yang canggih, warga negara bisa merayakan hari kemerdekaannya hanya dengan duduk sambil sarungan di belakang rumah, duduk di bus, di hatle, di pasar sambil menunggui dagangan, di masjid sambil iktikaf, dan macam-macam lagi. Hanya dengan ponsel yang bisa sambung dengan internet, mereka bisa memekikkan kata merdeka, lewat huruf-huruf, suara, gambar-gambar, dan lain-lain. Di manapun dan kapan pun mereka bisa melakukan, biasa disebut, “upacara bendera virtual”.

Di jejaring sosial facebook atau sejenisnya, para “facebooker” serentak mengubah poto profil jadi kibar merah putih atau gambar pahlawan. Update status berteriak merdeka dengan tanda seru berderet-deret.

Adalah Alissa Wahid, putri sulung mantan Presiden ke-4 KH. Abdurahman Wahid, salah sat pelopor perayaan Inddonesia di dunia virtual. Sejaka sejak tanggal 17 Maret 2011,

Ia memakai #17an (hastag tujuhbelaasan, red.). dengan penandan itu, Alissa yang memiliki follower lebih 18. 300 ngetwit pelbagai topik kebangsaan.
Misalnya, pukul 12.23 tadi, ia menulis “Begitu banyak yg peduli dg negara ini. Marah, benci, kecewa, putus asa, skeptis, pesimis, rindu, suka, penuh asa, syukur. #17an”.

Empat belas jam yang lalu, ia melaporkan acara yang sedang diikuti, ” Tembang Nusantara lambang kearifan, mengalahkan lagu jumawa simbol angkara. Pentas #17an Komunitas Anak Bangsa Jogja.”

Alissa dan sahabat-sahabat “virtuslnya” terus mengajak berbagai kalangan untuk ngetwitt #17an. Satu akun menyambut, lalu menyambung ke akun lain, diretwitt susul-menyusul. Tak dinyana, #17an jadi twitt yang akrab di jejaring sosial yang sedang berkibar ini.

Menurut salingsilang.com yang memiliki program crawler twiit di Indonesia, suatu alat ukur mendeteksi isu-isu apa yang sedang trend di Indonesia, sudah ribuan akun ngetwitt hastagh #17an. Situs ini melaporkan bulan Maret ada 8.500 twitt. Bulan April, melonjak hampir dua kali lipat: 12.000 twitt.

Gerakan hashtag #17an ini berawal dari keprihatinan Alissa dan banyak kalangan akan kondisi bangsa Indonesia yang dirundung masalah. Mulai dari masalah korupsi, kekerasan atas nama agama, kemiskinan, ketidakadilan yang mengarah disintegrasi bangsa.

“Berawal dari keprihatinan kondisi bangsa Indonesia yang belakangan ini dilanda isu-isu yang mencerminkan pudarnya persatuan Indonesia. Kemudia kami saling jawil antarteman, diskusi bagaimana situasi ini. Akhirnya menelurkan ide #17an ini,” jelas Alissa.

“Idenya pun didapat dari mana-mana, campur-campur. Semua coba disatukan. Akhirnya mengerucut jadi perayaan cinta Indonesia tiap tanggal 17 jam 17 di lini masa Twitter dan social media lainnya,” lanjutnya.

Alissa menambahkan #17an mengingatkan kita pada tradisi merayakan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tujuannya mengingatkan kembali bahwa kita ini saudara, sebangsa setanahair, bahwa setiap perbedaan kita diikat oleh satu yang sama: Indonesia.

Mendekati tanggal 17, #17an ini makin masif. Hingga dini hari tadi, satu akun memberitahukan telah 300 ribuan ngetwitnya.

“TT bukan tujuan utamanya. Tetapi gerakan ini justru diperlukan untuk menyuarakan dan mengobarkan semangat cinta Indonesia,” terang Alissa, sang penjahit perca GUSDURian ini.

Salah satu akun ada yang menjelaskan prihal #17an, #17an bukan soal statistik belaka. ini tentang ungkapan nasionalisme di era baru.

Tapi di saat yang sama, muncul akun-akun yang ragu, pesimis akan gerakan hashtag #17an ini. Pukul 03.10, dia ngetwitt demikian, “maaf. demi Allah, sejujurnya, saya kuatir jika peserta upacara #17an tak sesuai target, kuatir jika jadinya Indonesia Setengah Tiang…”

Alissa menanggapi, “Saya sepakat bahwa gerakan ini tidak akan cukup untuk mengubah Indonesia.”

“Terhadap yang berpendapat seperti ini, saya hanya bisa bilang, kami berpendapat hanya bukti yang akan meluruskannya,” lanjutnya.

Alissa tak heran, di bulan-bulan pertama gerakan #17an, sudah muncul akun-akun yang menolak dengan sinis. Bahkan ada dengan nada kecurigaan #17an ditunggangi kelompok berkepentingan, setidaknya ada kepentingan bisnis.

Di Twitter, gencar meraih Trending Topik (TT) dengan tagar atau hashtag semangat kemerdekaan.

Di selain #17an, ada pula hastag yang mengusung isu-isu serupa, di antaranya #hormatgrak, #merdeka, #indonesia66, #semangat45, #upacarabendera, #merahputih, #indo66. Pengetwittnya dari berbagai kalangan. Mulai politisi, cendikiawan, mahasiswa, artis dan pihak-pihak yang tidak dikenali latar belakangnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)