Perlu Penulisan Biografi Kiai-Kiai di Daerah

Di tengah derasnya informasi dengan berbagai dampaknya yang cenderung negatif diterima oleh generasi muda, maka perlu penulisan kiai-kiai yang berjasa membangun masyarakat baik melalui pendidikan ataupun melalui upaya pemberdayaan.

Banyak generasai muda yang tidak mengenal para pendahulu yang mmbangun masyarakatnya, akibatnya banyak dari mereka mengagumi kiai yang akhir-akhir ini marak mengajak berjihad dan hijrah.

Demikian dikatakan Sapro Aji, salah satu pengurus Lakpesdam NU kab Tegal dalam diskusi terbatas kemarin, Kamis (31/3) di gedung NU Slawi, yang prihatin dengan kondisi terbatasnya penulisan kiai-kiai NU di daerah, sehingga banyak generasai muda yang tidak tahu para pendahulunya dan lebih mengagumi kiai yang penampilanya mirip ulama besar, bersorban, jenggot tebal tapi ajarannya jauh dari tradisi dan kultur NU.

Menurut Sapro, di tengah masyarakat modern dan krisis multidimensi, terutama krisis moral, penulisan sejarah seorang ulama yang mempunyai kepribadian luhur serta uswah yang baik sangatlah diperlukan. Agar generasi sekarang dan mendatang bisa meniru keteladanya sehingga bisa menjadi pijakan hidup atau way of life dalam menghadapi problem kehidupan yang serba komplek.

“Beberapa peristiwa nabi yang menyangkut syariatnya, perilaku dan perjalanan hidup yang sangat penting untuk diambil i’tibar oleh umat sesudahnya ditulis dan diatur oleh Al-Quran. Ini mengisyaratkan bahwa penulisan sejarah para solih adalah sangat penting agar generasai sesudahnya bisa mengambil i’tibar (pelajaran) untuk selanjutnya dijadikan pegangan hidup supaya tidak tersesat dan terjerembab dalam gubangan dosa,“ katanya.

Tokoh-tokoh yang ada dibalik gerakan membangun masyarakat melalui pendidikan Islam, lanjut Sapro, perlu diteliti dan analisa baik upaya yang telah dilakukan melalui pendidikan Islam juga biografinya perlu ditulis dan didokumentasikan.

Sebagai contoh almarhum KH Miftah Tegal, ulama kharismatik yang pernah memimpin menjadi rais syuriah PCNU kab Tegal 3 kali, bahkan pernah masuk jajaran PW dan PBNU, banyak generasi sekarang mengenal baliau hanya dari mulut ke mulut tanpa pernah tahu persis kiprahnya dalam gerakan membangun masyarakat melalui pendidikan dan pemberdayaan, “ pungkasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)