Ponpes Al Amien Sumenep Terima Penghargaan Peduli Penghijauan

PAMEKASAN – Pesantren Modern di Prenduan Sumenep, Madura, Jawa Timur, menerima penghargaan dari Kementerian Kehutanan RI sebagai pesantren yang peduli terhadap lingkungan hidup dan program penghijauan yang telah dicanangkan pemerintah.

Menurut Kepala Perum Perhutani Madura Murgunadi, penghargaan kepada Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep itu diserahkan oleh Anggodo, Kabid Wilayah II, mewakili Kepala Balai Besar Konservasi Alam Jawa Timur kepada pengasuh pondok itu KH Maktum Djohari.

“Penyerahan penghargaan setelah acara Rapat Senat Terbuka Institute Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) pada Kamis (27/6) kemarin,” kata Murgunadi.

Penyerahan penghargaan atas kepedulian pesantren terkemuka di Madura itu terhadap upaya penghijauan itu, disaksikan perwakilan BP DAS Jatim, Perum Perhutani Unit II Jatim, Pemerintah Kabupaten Sumenep dan seluruh civitas Akademika IDIA, wisudawan dan keluarganya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Ini juga sebagai bentuk langkah nyata yang dilakukan pesantren atas kepeduliannya pada lingkungan,” kata Murgunadi.

Pesantren Al-Amien merupakan salah satu pesantren di Madura yang selama ini menjadi mitra pemerintah dalam berupaya melestarikan lingkungan dan menekan terjadinya pemanasan global melalui program penghijauan.

“Hasil pemantauan yang dilakukan oleh pihak Kementerian, ternyata program yang dijalankan di pesantren itu memang sangat luar biasa, dan itu dibuktikan di lingkungan pesantren sendiri,” kata Murgunadi menjelaskan.

Pesantren Al-Amien sendiri merupakan salah satu Pesantren di Pulau Madura, yang berada di Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep, sekitar 30 kilometer ke sebelah barat kota Sumenep.

Bangunan pesantren ini di areal seluas 25 hektar yang menyebar di beberapa lokasi di Desa Pragaan Laok dan Desa Prenduan.

Lembaga pendidikan Islam ini fokus pada pengembangan bidang pendidikan, dakwa, kaderisasi dan ekonomi sekaligus pula menjadi pusat studi Islam. Para pengasuh pondok dikenal nonpartisan, karena tidak pernah terjun menjadi pendukung salah satu partai politik, seperti sebagian pengasuh pesantren lainnya di Madura. Sumber: NU Online

%d bloggers like this: