Prodi Keislaman di PTS Kalah Bersaing dengan Prodi Umum

MALANG – Ketua Pusat Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Sawsata (BKS-PTIS) Dr Muhadjir Effendy mengungkapkan jika program studi atau prodi Islam akhir-akhir ini mulai ditinggalkan akibat kalah bersaing dengan prodi umum.

“Karena itu kami akan memanfaatkan rapat kerja dan simposium BKS-PTIS se Indonesia ini untuk menguatkan kembali prodi-prodi Islam tersebut agar bisa bersaing dengan prodi-prodi umum yang saat ini tumbuh pesat,” tegas Muhadjir Effendy di Malang, Ahad.

Rapat kerja (raker) dan simposium BKS-PTIS yang digelar di kampus Universitas Muhammadiyah Malang itu berlangsung selama tiga hari mulai Jumat-Ahad (3-5/5) dan dihadiri oleh pembina dan pendiri BKS-PTIS, yakni Jusuf Kalla, HA Malik Fadjar, KH M Tolchah Hasan serta Yarsi Jurnalis Uddin.

Lebih lanjut Muhadjir mengatakan, selain membahas bagaimana memperkuat kembali prodi-prodi Islam, pertemuan BKS-PTIS yang dihadiri oleh 460 perwakilan anggota PTIS itu juga akan merumuskan bagaimana PTS Islam yang belum kuat harus digandeng yang sudah kuat agar bisa maju bersama-sama.

Disamping fokus membahas penguatan kembali prodi-prodi Islam, kata Rektor UMM itu, yang terpenting lagi adalah bagaimana menguatkan kerja sama antaranggota PTIS dalam mengembangkan prodi-prodi umum maupun Islam yang kini mulai ditinggalkan.

Untuk merealisasikan kerja sama antaranggota PTIS itu, Muhadjir mengaku sudah memperoleh konfirmasi dari pihak Mu’assasah A-Waqf al-Islamy, Saudi Arabia. Rencananya pihak Arab Saudi menandatangani kesepakatan kerja sama, salah satunya dalam bidang pengajaran bahasa Arab bagi PTIS.

Setiap PTIS diberi kesempatan untuk melakukan pendekatan kepada Mu’assasah guna menindaklanjuti kerja sama tersebut. “Seluruh anggota PTIS bisa berhubungan langsung dengan pihak A-Waqf Al-Islamy terkait kerja sama pengajaran Bahasa Arab tesrebut,” ujarnya.

Sementara itu salah seorang pendiri BKS-PTIS yang juga mantan Menteri Agama Tolchah Hasan berharap BKS-PTIS semakin kuat secara organisasi, sehingga mampu meminimalkan konflik di internal perguruan tinggi masing-masing.

Sebab, lanjutnya, banyak antarpengurus di perguruan tinggi yang tidak mampu menahan emosi, sehingga terjadi konflik internal dan kondisi itu menghambat perkembangan serta kemajuan perguruan tinggi bersangkutan.

“Kita berharap forum BKS-PTIS ini mampu menjadi perekat antaranggota dan bersama-sama membangun peradaban tanpa mengabaikan aturan yang telah ditetapkan, sebab organisasi yang sehat harus taat aturan,memiliki kinerja administrasi dan keuangan yang baik,” tegasnya.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: