Santri Harus Belajar Menulis

SLEMAN – “Menulis adalah ekspresi dari sebuah pemikiran. Setiap orang yang ‘waras’ tentu punya pemikiran, karena hanya orang gila yang tidak punya pemikiran. Jadi pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan untuk menulis”.

Demikian pernyataan dari pemateri Muhammad Mustafied, dalam mengawali diskusi mingguan yang berlangsung di perpustakaan Pesantren Aswaja Nusantara, Mlangi, Nogotirto GMP, Sleman, Yogyakarta, Kamis malam (02/05).

Diskusi ini merupakan program mingguan Pesantren Aswaja Nusantara, yang dilaksanakan setiap hari Kamis malam Jum’at, pukul 20.30 sampai selesai.

Tema yang diusung kali ini adalah “Menulis Itu Indah dan Mudah”, dan disampaikan oleh Kang Tafied – sapaan akrab Muhammad Mustafied – yang tak lain merupakan pimpinan Pesantren Aswaja Nusantara itu sendiri.

Kang Tafied menyampaikan sembilan trik bagaimana untuk memulai menulis.

Pertama, hilangkan dulu stereotip bahwa menulis itu berat dan menyeramkan. Kedua, pengorganisasian ide-ide, untuk kemudian diambil satu ide sebagai fokus. Ketiga, membuat peta pemikiran dari ide-ide, terutama pada ide yang dijadikan fokus. Keempat, data-based-writing, yakni perlunya kekayaan data, dan kekuatan analitik dan imajinatif dalam menulis. Kelima, gunakan perspektif teori dan konsep yang jelas, kuat dan relevan. Keenam, mulailah menulis. Ketujuh, editing. Kedelapan, pengendapan, dan kesembilan, berbagi dengan teman sejawat

Diskusi tersebut berlangsung santai dan cukup aktif. Terbukti dengan adanya beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta kepada pemateri. Salah satunya adalah Rahmat, yang meminta pendapat tentang adanya asumsi bahwa penulis yang baik, bisa dipastikan dia pembaca yang baik. Namun, belum tentu pembaca yang baik itu pasti penulis yang baik.

Menanggapi hal itu, kang Tafied mengatakan bahwa ia sepakat dengan asumsi tersebut.

“Penulis yang baik adalah penulis yang bisa mengungkapkan gagasan yang runtut. Nah, untuk bisa runtut itu tidak bisa hanya mengandalkan imajinatif saja, tapi juga harus membaca”, tandas pria lulusan Filsafat Universitas Gadjah Mada pada malam itu.

Di akhir sesi diskusi, kang Tafied memaparkan perihal ‘mengapa harus menulis’. Setidaknya terdapat lima hal utama. Pertama, media atau tulisan merupakan kekuatan keempat setelah Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Kedua, tulisan mampu membuka kesadaran masyarakat . Ketiga, sarana dakwah. Keempat, mengembangkan kepemimpinan gagasan, dan kelima, mewarnai arena transaksi wacana, gagasan, dan ide di ruang publik.

Maka, sudah saatnya bagi kalangan pesantren untuk mentradisikan menulis sejak dini. Maraknya kitab-kitab karangan ulama klasik, merupakan bukti betapa produktifnya para ulama dalam hal menulis saat itu.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: