Sinta Nuriyah Wahid: Pemimpin! Jangan Korupsi!

Jember, NU Online
Sinta Nuriyah Wahid mengingatkan kepada pemimpin bangsa dan elit politik untuk tidak melakukan korupsi karena masih banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan di Indonesia.

“Maraknya kasus korupsi di Indonesia karena mereka tidak bisa memahami makna dan hakekat puasa yang sebenarnya,” tutur Sinta Nuriyah usai menggelar acara buka puasa bersama kaum duafa dan warga sekitar toko busana muslim “Rien Collection” di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis malam.

Menurut dia, jumlah kasus korupsi beberapa tahun terakhir ini meningkat tajam dibandingkan era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid selama kurun waktu dua tahun (20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001).

“Memang korupsi tidak bisa dihilangkan sama sekali di Indonesia, namun paling tidak semua tokoh-tokoh politik dan para pemimpin bangsa mengingat penderitaan rakyat miskin yang masih sengsara,” ucap tokoh pluralisme itu.

Kondisi masyarakat yang ditemui Sinta bersama rombongan Puan Amal Hayati selama safari Ramadhan sahur dan buka keliling di kabupaten/kota masih cukup memprihatinkan.

“Banyak warga yang menderita karena tidak bisa makan, tidak bisa menyekolahkan anak, tidak bisa berobat saat sakit, dan hidup di bawah garis kemiskinan,” katanya menjelaskan.

Seharusnya, lanjut dia, pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh politik memperjuangkan warga yang kurang mampu, bukan memperkaya partainya masing-masing dan mendapatkan keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya, dengan mengabaikan rakyat miskin.

“Kalau kita sudah bisa memahami hakekat puasa dengan benar, kemungkinan melakukan korupsi sangat kecil,” tutur mantan Ibu Negara itu dengan tegas.

Selama ini, kata dia, perebutan kekuasaan sering dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh politik dengan memprovokasi masyarakat menengah ke bawah untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan cara melakukan korupsi.

“Banyak masyarakat bawah yang dijadikan alat untuk memperoleh kekuasaan, padahal yang bertarung memperebutkan kekuasaan adalah elit-elit politik,” ucap istri almarhum Gus Dur itu.

Sinta Nuriyah Wahid bersama rombongan Puan Amal Hayati melakukan serangkaian acara buka dan sahur bersama kaum duafa di Kabupaten Jember.

Sinta Nuriyah juga menyempatkan diri berkunjung ke sebuah komunitas belajar anak-anak duafa di Kecamatan Ledokombo yang dikenal dengan sebutan “Tanoker” (kepompong dalam bahasa Madura).

Rombongan aktivis Puan Amal Hayati bersama Sinta Nuriyah Wahid juga akan melakukan sahur keliling di Pondok Pesantren Miftahul Ulum di Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jumat (19/8) dini hari.

Sedikitnya 24 kabupaten/kota di Indonesia akan dikunjungi oleh Sinta dalam rangka sahur dan buka puasa bersama kaum duafa selama bulan Ramadhan, di antaranya di 10 kabupaten/kota di Jatim yakni Pasuruan, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Malang, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Bangkalan, dan Tuban

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: