Siswa SMA dan SMK Ikuti Pembekalan Anti Terorisme

INDRAMAYU – “Acara ini dilaksanakan sebagai upaya membentengi para pelajar dari radikalisme beragama, mengingat semakin merajalelanya ancaman tersebut mengincar generasi muda bangsa, diantara contoh nyata adalah baru-baru ini ada siswa SMK yang terlibat terorisme. Yang mana terorisme itu sendiri sering berawal akibat dari kekeliruan pemahaman keagamaan,” kata Abdu Muiz Afandi, ketua panitia pelaksana.

Selain para narasumber utusan Kementrian Agama RI, juga diisi oleh para narasumber tokoh Masyarakat, dari MUI, Ormas, Kepolisian, akademisi dan kolomnis media nasional.

Khamami Zada, aktifis Lakpesdam NU yang tampil sebagai narasumber pertama mengatakan para orang tua perlu selektif terhadap ajaran radikalisme. Biasanya penampilan luarnya tidak mencurigakan, bersih dan menarik. Jarang sekali anak-anak berpenampilan gaul, rambut disemir atau laki-laki memakai anting, yang terlibat ajaran Islam garis keras atau radikal.

Sedangkan Nasrulloh Afandi, yang tampil sebagai pembicara terakhir di acara yang dilaksanakan di pesantren asuhan KH Afandi Abdul Muin Syafi’I itu, Ia mengatakan.

”Untuk membangun generasi muda yang religius, harus memenuhi tiga unsur, Pertama, peran aktif para guru, bukan hanya mengajar di kelas, tetapi harus disertai keihlasan dengan mendidik berbagai aspek hidup siswa-siswinya di dalam maupun di luar sekolah.”

Kedua, maksimalnya kontrol dari orang tua atau keluarga.

Ketiga, lanjut Kang Nasrul-sapaan akrabnya, kesadaran masyarakat luas bahwa perlunya sama-sama punya rasa tanggung jawab untuk mengontrol dan mengarahkan generasi muda di lingkungannya masing-masing, jangan sampai keluar dari norma-norma sosial maupun agama.

Di pesantren yang bulan lalu dikunjungi oleh Mahfud MD Ketua Mahkamah Konstitusi ini. Fitria, salah satu siswi perwakilan dari SMK asal Cirebon, Ia mengatakan bahwa acara semacan ini sangat bermanfaat bagi siswa-siswi SMK maupun SMA, apalagi banyak sekali siswa-siswi yang benar-benar minim pengetahuan agamanya, sejak jenjang SD (Sekolah Dasar) hingga SLTA.

Acara yang berlangsung empat hari empat malam tersebut, meski dalam agendanya hanya untuk diikuti oleh 200 siswa, namun antusias publik kian tinggi, hingga mencapai 360 siswa/siswi perwakilan dari 55 sekolah (SMK dan SMA) dari Indramayu, Majalengkan, Kuningan dan Cirebon yang diantar oleh kepala sekolah atau guru masing-masing. Bahkan meski agenda semula MA (Madrasah Aliyah) tidak dilibatkan, tetapi ada MA yang memaksakan diri mengutus delegasi sebagai peserta acara ini.

Di penghujung acara, dilaksanakan Marhabanan, untuk memperingati Maulid Nabi SAW, dipimpin oleh para ustadz pesantren setempat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: