Tradisi Baratan di Nishfu Sya’ban

Jepara, NU Online
Pawai Baratan digelar di Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, dilaksanakan sebagai puncak peringatan Nisfu Sya’ban (17/7). Baratan adalah arak-arakan simbol Ratu Kalinyamat diiringi wali kutub.

Dayang-dayang, para prajurit dengan diterangi lampu penerang berupa oncor, impes maupun lampion berpawai dari masjid al-Makmur desa Kriyan, kecamatan Kalinyamatan dan finish di pendopo kecamatan Kalinyamatan.

Menurut panitia kegiatan Asyari Muhammad, mengatakan tradisi tersebut merujuk pada peristiwa pembunuhan Sultan Hadirin, suami Ratu Kalinyamat, yang dilakukan oleh Arya Penangsang.

“Jenazah Hadirin, waktu itu, diboyong pada malam hari maka butuh sebuah lampu penerang berupa oncor. Sebagai simbolisasi peristiwa tersebut setiap 15 Syakban masyarakat memperingatinya dengan pawai,” katanya.

Wakil Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi sebelum pemberangkatan pawai mengungkapkan, Baratan merupakan momentum berkumpulnya warga dari penjuru kabupaten Jepara. Dari pertemuan itu, akan menuai panjang umur. Selain itu, Baratan sesuai dengan kata asalnya Bara’atan berarti lebaran atau melebur.

“Semoga dengan Baratan setelah kita saling bertemu dengan sesama warga, Allah SWT memberikan panjang umur, dosa-dosa telah dilebur, kita pun akan bertemu dengan dengan bulan Ramadan yang sebentar lagi akan datang,” harapnya.

Sebelum pawai, peserta shalat Maghrib berjamaah, lalu dilanjutkan pembacaan surat Yasin sebanyak 3 kali.

Kemudian diteruskan dengan bancakan, santap bersama, berupa makanan puli. Puli merupakan makanan yang terbuat dari beras. Agar rasanya kenyal beras dicampur dengan bleng.

Menurut salah satu versi, Puli diambil dari bahasa Arab Afwu lii, yang berarti ‘maafkanlah aku’. Nishfu Syakban merupakan momentum menghadapi Ramadan sehingga hati harus bersih dari segala dosa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: