Tradisi Lampu Pendem Selama Malam Ramadhan di Pemalang

Pemalang, NU Online
Warga Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak Minggu sore mulai memasang “lampu pendem” aneka warna di halaman rumah masing-masing untuk menyambut dan menyemarakkan malam Ramadhan 1432 Hijriah.

“Pemasangan ‘lampu pendem’ di halaman rumah sudah menjadi tradisi turun temurun sejak puluhan tahun silam, dan berlangsung hingga malam Lebaran lusa,” kata seorang warga Desa Purwosari, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Hadi (43), di Pemalang, Ahad.
Hadi yang sesepuh masyarakat desa setempat itu mengatakan, lampu aneka warna itu disebut “lampu pendem” karena pemasangan lampu minyak tersebut tidak digantung atau ditempatkan di atas meja, namun ditimbun di halaman rumah sebagai lampu penerang sekaligus hiasan menyambut malam Ramadhan.

Selain proses pembuatannya mudah, katanya, bahan pembuatan lampu tradisional tersebut juga sederhana dan banyak terdapat di sekitar rumah, yakni dari botol bekas, sepotong kain berukuran sekitar 2×10 centimeter, tutup minuman ringan, minyak tanah sebagai bahan bakar, dan tempat sabun bekas atau wadah lainnya berbahan plastik.

“Prosesnya sama dengan membuat lampu minyak pada umumnya, yakni botol kaca yang sudah tidak terpakai diisi minyak tanah dan diberi sumbu menggunakan kain, kemudian ditanam hingga leher botol, setelah badan botol tertimbun tanah selanjutnya sumbu dinyalakan lalu tutup minuman ringan yang berbahan aluminium yang sudah diberi lubang pada bagian tengahnya ditutupkan pada bagian atas botol,” katanya.

Jika api sudah menyala dan berkedip-kedip karena ditimpa tutup botol, katanya, kemudian bekas tempat sabun yang bagian bawahnya telah dihilangkan, kemudian ditutupkan di lampu tersebut, sehingga selain cahaya yang memacar dari lampu tersebut berubah warna sesuai dengan warna benda plastik yang menutup sekelilingnya, “lampu pendem” juga berkedap-kedip terlihat indah saat malam hari.

“Kalau ‘lampu pendem’ sudah menyala dan kedap-kedip, suasana Ramadhan semakin menjadi semakin semarak,” katanya.

Ia mengatakan, lampu khas warga pesisir pantai utara tersebut biasanya dibuat oleh anak-anak menjelang malam Ramadhan, mereka beramai-ramai mencari bahan dan membuatnya bersama-sama.

Seorang warga Kecamatan Ampelgading, Pemalang, Rito (45), mengatakan, sejak lima tahun terakhir tradisi memasang “lampu pendem” di kecamatan tersebut semakin berkurang, karena warga sekarang beralih memasang lampu listrik aneka warna yang lebih praktis.

“Sekitar lima tahun silam, hampir semua rumah warga memasang ‘lampu pendem’ saat malam Ramadhan, namun sekarang hanya beberapa rumah yang memasang lampu tradisional tersebut,” katanya.

Ia mengemukakan, selain praktis, warga lebih memilih memasang lampu listrik beragam warna untuk menyemarakan malam bulan suci Ramadhan karena harga minyak tanah mahal.

“Sekarang warga tidak ingin repot menyalakan, mematikan, mengisi minyak tanah jika botol telah kosong, dan menutup lampu dengan plastik jika hujan turun,” katanya.

1 thought on “Tradisi Lampu Pendem Selama Malam Ramadhan di Pemalang”

  1. Pingback: Tradisi Lampu Pendem Selama Malam Ramadhan di Pemalang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: