Habib Husein: Berbeda Itu Lumrah, Tapi…

Jika ditelaah lebih jauh, teks-teks keagamaan seperti Al-Qur’an dan hadits, kita akan mengerti bahwa perbedaan tidak hanya terdapat pada kehidupan manusia saja, bahkan para makhluk pilihan seperti para Malaikat, Nabi dan sahabat nabi pun tak lepas dari perbedaan pendapat.
Salah satunya termaktub dalam Surah Shad ayat 67-69, yang artinya “Katakanlah: “Berita itu adalah berita yang besar, Yang kamu berpaling daripadanya. Aku tiada mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang Al mala’ul a’la (malaikat) itu ketika mereka berbantah-bantahan.”

“Ayat tersebut membuktikan bahwa Malaikat yang tercipta dengan tanpa hawa nafsu dan selalu taat kepada perintah Allah SWT pun ternyata mengalami perbedaan pendapat satu sama lain,” terang pengasuh Majelis ‘Bismillah’ MWCNU Pasar Kliwon, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, Ahad (14/9) kemarin.

Tidak hanya itu, dalam ayat lain juga dikisahkan ketika terjadi dialog antara Nabi Khidhr a.s. dan Nabi Musa a.s. “Nabi Musa pun memprotes apa yang dilakukan oleh Khidhr as sehingga akhirnya Khidhr as pun memutuskan untuk berpisah dengan Nabi Musa,” tuturnya.

Lebih lanjut diterangkan oleh cucu Habib Anis Al-Habsyi itu, perselisihan pendapat yang dikisahkan di dalam Al-Quran dan hadits di atas menunjukkan bahwa perbedaaan pendapat adalah sebuah hal yang sangat lumrah.

“Jika para malaikat yang tercipta tanpa hawa nafsu, para nabi yang menerima wahyu, masih mengalami perbedaan perspektif (pandangan) di antara mereka, maka sangatlah wajar apabila orang-orang setelah mereka pun mengalami perbedaan pendapat,”

Namun, perlu digaris bawahi bahwa semua perbedaan itu muncul atas dasar taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan ijtihad (penggalian hukum) yang mempunyai dasar kuat bukan menuruti hawa nafsu belaka.

“Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa perbedaan yang dimaksud sebagai rahmat adalah perbedaan para ulama dalam permasalahan furu’iyyah bukan perbedaan yang berasal dari pernyataan orang awam yang tanpa dasar atau ngawur,” tegasnya.

Masalah akan muncul apabila kita melakukan hal tersebut tanpa berdasar pada sebuah ilmu atau ijtihad dari ulama. “Berbeda jika kita mengikuti (taqlid) pada Imam yang mampu menjelaskan dasar-dasar kebolehannya dengan terperinci dan bisa dipertanggung jawabkan. Di sinilah nilai kerahmatan dalam sebuah perbedaan,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)