Haul KH Abdurrahman Yahya ke-91 Digelar di Ponpes Manahijul Huda (YAPIM) Pati

Haul Almaghfurlah KH Abdurrahman Yahya ke-91 tempo hari Senin (30/12) berlangsung meriah. Rangkaian acara haul yang digelar tiap tahun bersama HUT Yayasan Pendidikan Islam Manahijul Huda (YAPIM) ini dilaksanakan selama sepekan.

Bermacam kegiatan diinisiasi para santri, alumni, dan seluruh stakeholders yayasan. Mulai bazar buku, karnaval, hingga ceramah ilmiah digelar melengkapi pembacaan Yasin dan tahlil pada ziarah umum di pesarean-nya yang berada di sebelah kiri Masjid Baiturrahman.

Makam Mbah Abdurrahman yang berada tepat di sebelah barat Pesantren Raudlatul Mubtadi’in Ngagel-Dukuhseti-Pati, Jawa Tengah ini tampak ramai oleh zairin-zairat yang nderes Alquran. Di tengah gegap gempita perhelatan haul, muncul sebuah pertanyaan: Siapa sebenarnya KH Abdurrahman Yahya? Apa kaitan sosok yang kerap disebut Mbah Drahman ini dengan pesantren berarsitektur klasik yang berdiri kokoh di selatan masjid yang namanya dilekatkan kepada sang pendiri ini?

Bagi masyarakat setempat, KH Abdurrahman Yahya (Mbah Drahman) selain sebagai ulama kharismatik dan penjaga gawang moral umat, adalah pendiri masjid Baiturrahman yang berdiri sejak 1903. Namun, sejatinya beliau merupakan sosok inspirator berdirinya pesantren yang didirikan para putranya yang memang telah dipersiapkan menjadi tokoh agama dan pemimpin masyarakat.

Hal ini terungkap setelah NU Online melakukan wawancara khusus dengan beberapa narasumber disela-sela rangkaian kegiatan haul Mbah Drahman yang ke-91 bersamaan HUT ke-81 YAPIM tempo hari (30/12). Salah satunya dengan cucu Mbah Drahman yang kini menjadi pengasuh Pesantren Raudlatul Mubtadi’in, KH Zainal Arifin Ridlo. Mbah Zen, demikian kiai kharismatik ini disapa, menyatakan bahwa pesantrennya merupakan rintisan para putra Mbah Drahman.

“Pesantren ini merupakan buah dari cikal bakal masjid Baiturrahman. Masjid yang didirikan Mbah Drahman pada tahun 1903 ini memang diarahkan sebagai pusat keilmuan. Sayangnya, sebelum pesantren ini berdiri beliau keburu wafat pada 1922. Sepuluh tahun sepeninggal beliau, pada 1932 Madrasah Manahijul Huda lahir. Inilah cikal-bakal pendidikan berbasis pesantren di Ngagel ini,” ujarnya.

Menurut salah satu keturunannya, KH Afwan Sholeh (60), Mbah Drahman memiliki tujuh orang anak, empat orang putra dan tiga orang putri: Nyai Masyrifah, Nyai Masijah, KH Masyhuri, KH Ali Ridlo, KH Mas’ud, KH Abdullah Muhajir, dan Nyai Hj Maimunah. Karena anak pertama dan kedua perempuan, sementara putra lainnya masih nyantren, akhirnya putra ketiga, KH Masyhuri, dengan dibantu dua kakak iparnya, KH Fadhil dan KH Alawi mengawali pendirian Pesantren Raudlatul Mubtadi’in tersebut.

“Karena kecintaannya kepada ilmu agama, KH Abdurrahman Yahya yang wafat pada Senin, 14 Muharram 1340 H/1922 M, sebetulnya telah berpikir jauh ke depan untuk menyebarkan agama di daerahnya. Mula-mula, ia bersama beberapa koleganya yang didukung warga mendirikan sebuah masjid, yang diberi nama Baiturrahman (Rumah Tuhan Yang Maha Kasih). Inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadi’in,” ujar Afwan mengawali ceritanya.

Cicit Mbah Drahman dari putri kedua ini menambahkan, sejak awal Mbah Drahman memang mempersiapkan putra-putri beliau menjadi orang-orang alim yang bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karenanya, Mbah Drahman mendirikan masjid Baiturrahman ini sebagai pusat pembelajaran para santri dan warga sekitar.

“Pada masa itu, pendidikan pesantren sangat dibenci oleh penjajah. Setiap saat opsir Belanda mengawasi kegiatan para santri. Namun karena kegiatan berpusat di masjid, yang notabene adalah tempat suci, mereka mendiamkan saja,” kata bapak lima anak ini.

Di tempat terpisah, KH Ali Makhtum (57), salah seorang cicit menantu dari putri pertama Mbah Drahman yang juga alumni Madrasah Manahijul Huda ini mengatakan, pusat keilmuan agama selain di Kajen-Margoyoso untuk daerah Pati utara adalah Ngagel-Dukuhseti. Ini terbukti ketika beberapa desa lainnya belum mempunyai pesantren, Ngagel sudah memilikinya.

“Di daerah Tayu hingga ujung utara Kecamatan Dukuhseti saat itu belum ada pesantren atau madrasah. Buktinya, para kiai setempat, seperti Kiai Tasywi Shoheh, Kiai Suyuthi Grogolan, dan yang lainnya semua berguru ke Ngagel. Sampai saat ini, tambahnya, santri yang mondok di Pesantren Ngagel berasal dari beberapa daerah, bahkan ada yang dari luar Jawa,” ujar Wakil Kepala MA YAPIM ini.

Sejarah beberapa pesantren yang lahir di sekitar YAPIM sejatinya memiliki hubungan sangat erat dengan Masjid Baiturrahman Ngagel. “Jagat cilik” Pesantren putri Nurul Hidayah asuhan Nyai Hj Lathifah Muallim, Pesantren Tahfidz Fadhlurrahman asuhan Kiai Sururi Mudrik, Pesantren Al-Hidayah asuhan Kiai Ali Mahrus, serta Pesantren Raudlatul Mubtadi’in dan Pesantren Nasyiatul Banat asuhan cucunya, KH Zainal Arifin Ridlo, semuanya terinspirasi oleh “jagat gedhe” masjid yang didirikan Mbah Drahman.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)