Keluarga NU Tunisia Gelar Orientasi Kader

TUNIS – Keluarga Nahdlatul Ulama (KNU) Tunisia memulai kegiatan orientasi bagi para anggota, Sabtu (21/11) kemarin di Tunis. Kegiatan akan berlanjut dalam beberapa sesi selama bulan Nopember-Desember 2014.

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperkuat pemahaman anggota tentang ke-NU-an dan ke-aswaja-anini diikuti oleh 35 orang mahasiswa warga NU. Pada Sabtu kemarin, Dr KH Fuad Tohari (Wakil Ketua LBM PBNU) dan Dr. Ahmad Kholil Yasir (Dosen STAIN Kediri) memberikan orientasi sesi pertama.

Mengawali pemaparannya, KH Fuad menjelaskan latar belakang sejarah pendirian NU, serta berbagai problematika yang mewarnai perjalanan jam’iyyah ini hingga era reformasi. Kemudian, disampaikan pula tantangan-tantangan yang dihadapi jam’iyyah NU pada era modern ini.

Menurutnya, tantangan berasal dari luar NU, terutama adanya ekspansi ideologi dan gerakan transnasional yang merasuki masyarakat nahdliyin di tanah air.

“Para mahasiswa yang belajar di luar negeri, seharusnya lebih memahami dan mampu mewaspadai gerarakan-gerakan transnasional ini”, kata Kyai Fuad.

Sedangkan tantangan yang bersifat internal adalah persoalan-persoalan keumatan seperti kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan umat. “Itu semua adalah PR besar bagi warga NU, termasuk para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di luar negeri”, tutur KH Fuad yang juga dosen UIN Jakarta ini.

Karena itu, lanjut Fuad, para kader muda NU harus menyiapkan diri agar saatnya nanti siap melanjutkan estafet kepemimpinan yang akan diwariskan para ulama generasi sekarang.

Sedangkan Dr Kholil mendorong para kader NU di Tunisia untuk mengoptimalkan perannya melalui jam’iyyah Nahdlatul Ulama. “Pengalaman berorganisasi selama masa kuliah adalah modal besar bagi terciptanya para pemimpin handal di masa yang akan datang”, tutur Kholil.

Pada acara sambutan pendahuluan, ketua Keluarga Nahdlatul Ulama (KNU) Dede Ahmad Permana menjelaskan, KNU Tunisia didirikan sebagai wadah silaturahmi warga nahdliyin di Tunis, sekaligus sebagai rintisan pendirian PCINU Tunisia. “Pembenahan internal dan kelengkapan organsasi telah dilakukan secara bertahap, sambil mengurus pengajuan SK ke PBNU,” tutur mahasiwa S3 Universitas Zitouna ini.

Di Tunisia, saat ini terdapat sekitar 150 WNI, termasuk di dalamnya 70 mahasiswa yang sedang menimba ilmu di sejumlah lembaga pendidikan, seperti Universitas Zitouna, Universitas Tunis dan Universitas Manouba. Mereka berasal dari berbagai daerah di tanah air dan rata-rata lulusan pesantren.

Potensi itu dapat dioptimalkan dalam rangka transformasi wacana-wacana keislaman anara Tunisia dan Indonesia, mengingat umat Islam Tunisia yang berakidah Ahlussunnah dan bermazhab Fiqh Maliki, dikenal sangat moderat dan toleran. Hal ini sejalan dengan karakter umum umat Islam Indonesia dan sebagaimana prinsip tawassuth, tawazun dan tasamuh yang diusung oleh jam’iyyah NU.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: