KH Agus Sunyoto: Sunni-Syiah Punya Kedekatan Historis & Kultural, Tapi Banyak Kesalahpahaman & Fanatisme

JAKARTA – Konflik antara Sunni dan Syiah seolah terus berkepanjangan, padahal secara historis dan kultural keduanya mempunyai kedekatan. Munculnya konflik antara dua aliran ini dimulai dari jalur politik.

Demikian disampaikan sejarawan Islam Nusantara, Agus Sunyoto, ketika menyampaikan tentang pengaruh Syiah Zaidiyah dalam proses Islamisasi Nusantara di hadapan mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta Kelas Ciganjur, Jumat (28/11).

“Sunni dengan Syiah tidak praktis hitam putih begitu itu. Sekarang aja ketika muncul Syiah politik macam-macam itu kan, sekarang baru terjadi (gesekan), dulu tidak begitu,” tegas Dosen Arkeologi STAINU Jakarta ini.

Lebih lanjut Agus mengisahkan tentang diskusinya dengan orang Syiah yang memberikan penilaian negatif kepada Abu Bakar. Saat itu Agus langsung bertanya kepada orang Syiah itu tentang sosok Imam Ja`far Shadiq. Dijelaskan bahwa Imam Ja`far Shadiq adalah keturunan dari Imam Ali, dari Imam Zainal Abidin dan seterusnya.

“Kamu tahu nggak ibunya Imam Ja`far Shadiq itu sopo? Nggak tahu dia. Saya beri tahu ibunya Ja`far itu, Shafah itu cucunya Abu Bakar, nah dalam tulisannya Ja`far Shadiq itu kamu akan baca bagaimana Ja`far itu memuji-muji kakeknya yang bernama Abu Bakar karena itu Imam Ja`far diberi gelar ‘Shadiq’. Kenapa? Perilakunya persis kakeknya Abu Bakar Asshidiq, maka dia disebut Ja`far Shadiq, namanya Ja`far aja nggak pake Shadiq, artinya kalau Imam Ja`far tahu kamu menghujat Abu Bakar Ashidiq, wah kamu bisa ditempelengi Ja`far Shadiq karena menghina kakeknya, dia memuji-muji kamu malah mencela dia,” papar penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Agus pun menyesalkan perilaku orang-orang Syiah yang banyak mencela dan menghina Abu Bakar, padahal Imamnya sendiri, Imam Ja`far Shadiq adalah keturunan Abu Bakar dari pihak Ibu, bahkan Imam Ja`far Shadiq sangat menghormati dan memuji-muji Abu Bakar namun sayangnya para penganut Syiah justru banyak yang mencela, seolah-olah menghilangkan hubungan dekat dengan empat sahabat Nabi (khulafaurrasyidin).

Sebaliknya, lanjut Agus, orang-orang yang anti Syiah juga berlebihan karena mereka mengatakan, “Awas hati-hati paham Ja`fari sudah berkembang di Indonesia, itu paham Syiah, paham sesat.” Statemen ini, menurutnya, cukup ironis karena Imam Ja`far Shadiq adalah guru dari imam mazhab fiqh, yakni Imam Maliki dan Imam Abu Hanifah.

“Kalau kamu meyakini bahwa paham yang dibangun oleh Imam Ja`far Shadiq itu sesat, ya kamu harus memberikan kesimpulan juga berarti kalau Ja`far Shadiq sesat, mazhab Ja`fari sesat, murid-muridnya pasti sesat juga. Imam Ja`far itu punya murid Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, itu berarti dua orang itu sesat juga, berani nggak kamu mengatakan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah sesat, nah Imam Maliki itu punya murid, Imam Syafi`i, apa sesat juga?” ujarnya.

Untuk itu, Agus mengimbau, dalam meneliti sejarah hendaknya melepaskan aspek-aspek emosional seperti kebencian atau kecintaan, karena jika salah satu dari dua aspek ini hadir dalam diri seorang peneliti maka hasilnya tidak akan objektif.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: