Muslim Amerika Kekurangan Imam

Meskipun jumlah pemeluk Muslim di AS naik berlipat-lipat, jumlah ulamanya atau imam, mengalami ketertinggalan.

Banyak imigran Muslim telah mengarahkan anak-anak mereka jauh dari peran kepemimpinan agama dan menuju karir di bidang kedokteran, teknik, hukum dan bisnis, kata Jihad Turk, seorang imam dan presiden Bayan Claremont, lulusan sekolah Islam di Claremont School of Theology di selatan California seperti dikutip dari The Wall Street Journal (14/8). Banyak masjid Amerika dijalankan dengan anggaran terbatas dari para relawan dan tidak bisa menjamin gaji tetap untuk para imam.

Menurut sebuah penelitian pada 2011 yang disponsori oleh sebuah koalisi multi-agama, hanya 44% imam AS bekerja penuh waktu dan dibayar, sementara sebagian besar lainnya dikelola secara sukarela.
Menemukan seorang imam yang dapat berkomunikasi dengan jamaah berusia muda kelahiran Amerika sangat sulit, kata seorang pemimpin Muslim Amerika.

Muslim muda Amerika mengharapkan lebih seorang imam mampu menjalankan peran lebih dari sekedar pembacaan kitab suci secara tradisional, kata Edgar Hopida, juru bicara Masyarakat Islam Amerika Utara, sebuah jaringan pemimpin kelompok Muslim. Seperti hubungan antara anggota dan pendeta di Amerika, imam diharapkan menjadi “konselor pernikahan, pembimbing generasi muda, ulama dan sekaligus pengumpul dana,” kata Mr Hopida. “Seperti pastor setempat, mereka ditempatkan sebagai tokoh masyarakat.”

Kebanyakan imam, lahir dan dididik di Timur Tengah, memiliki waktu yang sulit melayani orang Amerika, kata Mr Turk, 43 tahun yang asli Phoenix yang memiliki program bertujuan untuk melatih para imam Amerika dengan kursus manajemen nirlaba, psikologi, keterlibatan sipil, hubungan gender dan media.

“Generasi tua imigran harus memahami, tidak penting dari mana Anda berasal, anak-anak Anda adalah orang Amerika. Dan ada kekhawatiran yang sangat nyata bahwa generasi muda tidak akan menemukan masjid yang menjadi tempat untuk beresonansi jika imam tidak siap untuk membantu mereka dengan dunia mereka,” kata Turk.

Beberapa jemaah mulai memahami hal ini, kata Mr Turk. Satu imam di Boston baru-baru ini memberikan khotbah dengan menggabungkan ide-ide dari acara televisi populer. Jemaah di luar Los Angeles merekrut seorang kelahiran Amerika yang telah masuk Islam. Jemaat lain menawarkan kegiatan bagi para mahasiswi, mendorong keterlibatan sipil dan secara terbuka mendiskusikan tantangan membangun sebuah identitas Muslim Amerika.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: