NU Jawa Timur Imbau Nahdliyin Pilih Caleg NU

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengarahkan warganya untuk memilih calon anggota legislatif (caleg) NU atau memilih parpol yang mempunyai perhatian kepada NU.

“Caleg yang se-akidah itu penting dan harga mati, karena caleg-lah yang membuat aturan dan aturan caleg NU itu merespons aspirasi NU, seperti penolakan NU pada pengurusan akta kelahiran di pengadilan, penutupan lokalisasi, dan membantu program kemasyarakatan NU,” kata Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar di Sekretariat PWNU Jatim, Rabu.

Didampingi Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah dan Katib Syuriah PWNU Jatim KH Syafrudin, ia mengingatkan masyarakat agar tidak memilih parpol atau caleg yang memberi uang, sebab aspirasi masyarakat akan diabaikan, karena pelaku “money politics” sudah merasa membelinya.
“Karena itu, money politics itu haram, sebab pelaku bisa membeli aspirasi kita dan tidak akan pernah memperjuangkan aspirasi kita. Kalau golput itu tidak haram, tapi jangan dilakukan, karena hal itu banyak merugikan, sebab aspirasi kita yang kosong bisa dicuri orang lain. Agama tidak menyukai perbuatan sia-sia,” katanya.

Ketika ditanya parpol yang mempunyai perhatian terhadap NU itu, ia tidak mau menyebut. “Tak perlu disebut, karena saya yakin warga NU sudah tahu, mana caleg atau parpol yang punya perhatian itu, tentu perhatian yang cukup lama, bukan hanya menjelang Pemilu,” katanya.

Menurut pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedung Tarukan, Surabaya itu, menggunakan hak pilih dalam bahasa agama adalah wajib, karena nasbur ri’asah atau keikutsertaan dalam menentukan pemimpin itu hakikatnya wajib adanya.

“Karena itu, kalau dilakukan dengan niat yang benar akan menjadi ibadah, tapi kalau niat dan caranya salah, maka akan menjadi perbuatan sia-sia yang tidak disukai. Dalam Khittah NU disebutkan warga NU merupakan warga negara yang punya hak politik dan hak itu harus digunakan secara bertanggung jawab,” katanya.

Terkait cara yang bertanggung jawab dalam hak pilih itu, PWNU Jatim menyebutkan beberapa kriteria yakni calon pemimpin yang se-akidah (caleg/capres/parpol pro-aspirasi NU), berakhlakul karimah, setia pada Pancasila dan setia paham Ahlussunnah wal Jamaah, dan punya kapabilitas.

Senada dengan itu, Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah menegaskan bahwa pihaknya mengeluarkan arahan itu, karena PWNU Jatim melihat Pemilu 2014 yang merupakan pemilu keempat pada era reformasi itu sangat penting dan perlu didorongkan menghasilkan kebaikan.

“Pemilu 2014 itu sangat penting, karena akan menjadi momentum regenerasi kepemimpinan nasional dan momentum naiknya pangkat demokrasi di Indonesia dari demokrasi prosedural menjadi demokrasi substansial yakni demokrasi untuk kesejahteraan,” katanya.

Ia menambahkan Pemilu 2014 juga penting, mengingat posisi Indonesia saat ini nyaris tanpa kedaulatan akibat jebakan liberalisasi ekonomi, politik, agama, dan budaya, sehingga Indonesia menjadi “bulan-bulanan” negara lain.

“Karena itu, Pilpres 2014 juga akan menjadi perhatian PWNU Jatim. Kami sudah menerima permintaan para ulama Jawa dan Luar Jawa untuk menggelar Silaturahmi Nasional guna memikirkan pemimpin nasional yang kuat secara politik dan ideologi. Yang jelas, silaturrahmi itu diawali istikhoroh para ulama sambil menunggu hasil Pemilu Legislatif,” katanya. Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)