NU Perlu Maksimalkan Jejaring di Media Sosial

SURABAYA – Sejumlah kemudahan dan tersedianya sarana untuk mengakeses internet hendaknya dapat dioptimalkan oleh Nahdlatul Ulama untuk menyapa sejumlah kalangan. Keberadaan media sosial juga harus dijadikan media untuk menyapa warga.

Pesan ini disampaikan oleh  Ikhwanul Kirom yang tampil menjadi pembahas pada kegiatan bedah buku yang diselenggarakan di Empire Palace Hotel Surabaya, Sabtu petang (29/11). Buku yang dibedah adalah karya Dr KH As’ad Said Ali dengan judul “Al-Qaeda (Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya).”

Dalam paparan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Republika ini, banyak kalangan muda yang tidak terlalu disentuh organisasi sosial keagamaan. “Ketika ada konser grup musik yang digandrungi anak muda, praktis tidak ada yang berkenan menyapa mereka,” katanya. Padahal ketika diteliti, mayoritas fans grup music tersebut adalah beragama Islam, lanjutnya.

Dan dia berkeyakinan bahwa di antara mereka adalah dari keluarga Nahdlatul Ulama. “Tapi pernahkah kita menyapa mereka?” katanya balik bertanya. Dan bila anak-anak muda ini jarang disentuh dan didekati, bukan tidak mungkin mereka akan berperilaku yang jauh dari ajaran dari NU.

Karena itu hal mendesak yang harus segera dilakukan oleh para kiai dan aktivis NU adalah menyapa dan mempengaruhi pola pikir mereka lewat internet, termasuk di dalamnya adalah media sosial. “Karena sekarang anak muda sangat mudah menggunakan gadget serta mudah berkomunikasi lewat sosial media,” terangnya.

“Bahkan tidak sedikit anak muda yang justru mendapatkan informasi serta dipengaruhi oleh berita di internet dan media sosial,” ungkapnya. Karena itu diperlukan model pendekatan yang lebih  intensif agar anak muda tersebut tidak salah arah.

Kirom, sapaan akrabnya menceritakan banyak ternyata para relawan ISIS adalah para pelajar potensial dan sedang belajar di luar negeri dengan beasiswa. Karena seringnya mereka menggunakan internet dan media sosial yang tanpa diimbangi dengan kedalaman pemahaman agama akhirnya bisa terperosok kepada gerakan radikal tersebut.

Achmad Rubaidi seusai bedah buku juga sependapat dengan hal tersebut. “Kita terlalu asyik berdakwah dengan media konvensional dan melupakan ranah dakwah yang lebih massif yakni internet,” kata Wakil Sekretaris PWNU Jatim yang dipercaya sebagai moderator bedah buku.

Dengan kemudahan akses, maka sudah selayaknya para generasi muda disapa melalui media yang mereka gendrungi. “Kalau tidak, kita akan terbelalak lantaran kondisi anak muda ternyata jauh dari yang diinginkan generasi tua,” kata dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

“Ini adalah ladang dakwah yang harus segera diisi agar NU bisa lebih mewarnai perjalanan bangsa melalui ide dan gagasan Islam rahmatan lil’alaminnya,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: