PBNU Diminta Pererat Komunikasi dengan Berbagai PCINU

KAIRO – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir meminta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjalin hubungan yang lebih intensif dengan PCINU yang tersebar di berbagai negara.

“NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia yang mempunyai PCINU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama) di banyak negara sudah seharusnya dapat membangun jaringan komunikasi yang lebih baik,” kata Rais Rais Syuriah, Mukhlason Jalaludin usai pelantikan pengurus baru PCINU Mesir periode 2014-2016, akhir pekan lalu.

“Caranya, PBNU menyiapkan satu ruangan khusus, misalnya, kepada dua orang penanggung jawab yang berfungsi meningkatkan komunikasi antar PCI dan PBNU”, tuturnya.

Hadir dalam kesempatan itu Wakil Sekjen PBNU H M Imdadun Rahmat, Ketua baru PCINU Mesir Nurul Ahsan, dan segenap jajaran pengurus NU setempat. Pelantikan yang disusul dengan dialog umum dengan tema “Kontribusi NU dalam Peradaban Global” ini digelar di Aula Griya Jateng-KSW (Kelompok Studi Walisongo), Madinet Nasr, Kairo.

Dalam dialog tersebut, H. M. Imdadun Rahmat mengawali pemaparannya tentang manhaj (metode) NU dalam mendidik hingga membentuk karakter bangsa.

“Nahdlatul Ulama melalui manhaj-nya mendidik kita sebagai syuhud hadhari (saksi peradaban), syuhud tsaqafi (saksi pengetahuan), syuhud siyasi (saksi politik),” paparnya.

Bermula dari saksi atau orang yang tidak menutup mata pada hal tersebut, karakter bangsa yang toleran, berwawasan, dan memahami jalannya percaturan negara akan terbentuk.

“Tidak sedikit NU mencetak generasi unggul yang telah berkiprah di tingkat nasional, 5 menteri dan 1 di bidang dipendidikan, bahkan dalam partai PKS diisi oleh orang-orang NU”, ujar penulis buku Ideologi Politik PKS ini.

Masih menurutnya, terdapat sekitar 150 nahdliyyin bergelar profesor dan lebih dari 100 bergelar doktor.

Beralih tentang filosofi lambang NU, Imdadun menuturkan bahwa NU mempunyai misi untuk bisa berkontribusi bukan hanya pada Indonesia, melainkan juga dunia dalam ruang yang lebih luas. Hal itu tertuang dalam lambang organisasi.

Perbincangan ini juga sempat menyinggung tentang kesamaan manhaj yang dimiliki NU dan al-Azhar al-Syarif. Sama dalam hal tasamuh (toleransi), tawazun (harmonis) bahkan mengenai madzhab fiqih sampai tasawwuf-akhlak. Hal ini terkait citra pelajar Timur-Tengah belakangan ini yang terkesan membawa radikalisme.

Imdadun mengungkapkan, “Ada dua kecenderungan pemikiran di akademisi Timur-Tengah, yakni tathorruf (ekstrem) dan tawassuth (moderat).”

Melalui kepengurusan baru, mahasiswa dan pelajar nahdliyyin di Mesir, khususnya di al-Azhar diharap dapat benar-benar membawa apa yang ormas NU & institusi al-Azhar perjuangkan.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: