PCINU Mesir: Jangan Jadi Sarjana NU yang Kemarab dan Keminggris

KAIRO – Demi menggugah kembali rasa nasionalisme warga NU, Lembaga Seni dan Kebudayaan Nahdlatul Ulama (LSBNU) PCINU Mesir bekerjasama dengan Tebuireng Center Kairo membedah film yang menceritakan perjuangan pendiri NU Hadrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, “Sang Kiai”.

Acara yang diadakan pada Jum’at, 14 Maret di Aula sekretariat PCINU Mesir ini juga mengangkat diskusi tentang NU terkait kebangsaan dan pesantren. Pembicara kali ini menghadirkan Wakil Katib Syuriah PCINU Mesir, Ahmad Ginanjar Sya’ban (Kang Aceng).

Sekitar 20 orang kader NU Mesir mengikuti acara ini dengan seksama. Dimulai dengan pemutaran Film setelah shalat maghrib berjamaah yang dipimpin ketua PCINU, Khozin Dipo. Dilanjutkan dengan dialog terkait NU dan keindonesiaan.

Kang Aceng, dalam kesempatan ini menyinggung banyak hal terkait pesantren sebagai salah satu pilar utama dalam mengkader paham Ahlussunnah wal Jama’ah dan komponen penting dalam membina warga NU yang militan.

Kang Aceng mengatakan bahwa NU didirikan untuk menjadi salah satu representasi Islam yang menjadi ciri khas Indonesia. Guru-guru dan kiai NU banyak yang belajar di negeri Arab, namun tak lantas menjadikan Indonesia menjadi ‘’kemarab” (kearab-araban). Demikian juga diharapkan sarjana Barat tak menjadikan warga NU menjadi “keminggris” (kebarat-baratan).

Karena menurutnya, salah satu ciri bangsa yang besar adalah bangga terhadap kebudayaan dan tradisi yang kita miliki. Dan ini yang harus dimiliki oleh anak Indonesia sekarang ini, yang mudah sekali “meniru-niru” bangsa lain—bahkan sudah lupa terhadap sejarah bangsa sendiri.

Namun demikian, bukan berarti kita harus menafikan peradaban bangsa lain, akan tetapi perlu, guna memperkaya wawasan. Kang Aceng juga menekankan pentingnya pesantren membekali santrinya untuk menghadapi hal-hal yang waqi’iyyah atau kekinian.

Diskusi menjadi semakin menarik, berbagai wawasan kemudian dilontarkan peserta terkait NU dan kiprahnya untuk Indonesia. Sedikit menyinggung tentang kritik terhadap Film “Sang Kiai” juga disampaikan. Tepat pukul 22.15 waktu setempat, acara ditutup dengan makan bersama.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: