Pelatihan Manajemen Zakat oleh LAZISNU Pusat

Jogja, NU Online
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1432 H, Lembaga Amil Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) menyelenggarakan Training Manajemen Zakat di Pesantren Mursyidulhadi Ploso Kuning, Desa Minomartani, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, Yogyakarta (23/7).

Pelatihan manajemen zakat yang bertajuk “Sosialisasi dan Revitalisasi Peranan Lembaga Amil Zakat bagi Siswa Madrasah/Santri” itu diikuti oleh 60 peserta utusan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan LAZISNU Kab. Bantul, Sleman, Kota Yogyakarta, Kulon Progo dan Gunung Kidul.

Hadir dalam acara training tersebut Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik, Direktur Eksekutif LAZISNU Amir Ma’ruf, Ketua LAZISNU Wilayah DIY Bambang Suprayitmo, Pimpinan Pesantren Mursyidulhadi Ploso Kuning KH Zamakhsari, dan Kepala Desa Minomartani H. Bahrun serta para tamu undangan lainnya.

Menurut Direktur Eksekutif LAZISNU Amir Ma’ruf, pelaksanaan pelatihan manajemen zakat ini atas kerjasama LAZISNU Pusat dengan Kementerian Agama RI yang pelaksananya oleh pengurus LAZISNU Wilayah DIY. Kenapa dilaksanakan di pesantren? Amir menegaskan, sesuai amanah PBNU bahwa segala kegiatan harus kembali ke pesantren. “Dari pada di hotel lebih baik di pesantren kan, karena warga NU basicnya adalah pesantren,” ujar Amir di sela-sela menyampaikan materi pelatihan.

Amir yang juga sebagai nara sumber dalam training itu menegaskan, betapa pentingnya bersinergi (kerja sama-red) dalam setiap program yang akan dilaksanakan lembaga zakat. Ia mencontohkan, dalam program pemberdayaan ekonomi mikro, Lazisnu menggandeng perusahan yang memproduksi minuman Extra Joss dengan pemberian modal berupa sepeda dan seperangkat gerobaknya serta isinya senilai Rp2,8 juta. “Lazisnu memberikan kesempatan kepada para mustahik yang ingin mengembangkan usahanya atau mau belajar wirausaha dengan pemberian modal seperangkat alat jualan Extra Joss,” tegas Amir di hadapan peserta pelatihan.

Meski program tersebut digagas dan dimulai dari Lazisnu pusat, pengurus wilayah dan cabang nantinya juga akan dapat menikmati program tersebut. “Misalnya, kalau peluangnya bagus di Gunung Kidul untuk jualan minuman Extra Joss, boleh mengajukan ke Lazisnu pusat, apalagi di musim panas ini, kan seger kalau minum Extra Joss tambah es,” kata Amir.

Selain harus punya kemampuan untuk menciptakan program yang menarik dan fokus, seorang amil juga dituntut untuk memiliki kemampuan fundraising (pengumpulan dana). “Ia harus bisa menyusun proposal program dan menawarkannya kepada calon muzakki atau calon mitra-mitra Lazisnu,” tambah Amir.

Dalam program fundraising, Amir mencontohkan, Lazisnu menggandeng kerjasama dengan Pro XL dan semua operator dalam SMS (pesan singkat) RBT (ring back tone)lagu Mars Lazisnu. “Anda tinggal SMS saja, ketik MG spasi Lazisnu kirim ke 808 untuk yang memiliki sim card Indosat atau ketik Lazisnu kirim ke 1818 untuk pemilik sim card XL, dan operator lain, anda sudah berinfak melalui Lazisnu,” jelas Amir.

Amir menggambarkan, seandainya warga nahdliyin yang berada di Jogjakarta ini klik kirim sms pesan RBT lagu Mars Lazisnu dan Mars Harlah NU, katakanlah ada seribu orang, maka tinggal ngalikan saja. “Berapa perolehan zakat, infak Lazisnu?” tanya Amir.

Senada dengan Amir, nara sumber lain dari Jakarta Sudayat Kosasih, menguraikan sisi lain dari kelembagaan amil zakat. Peranan lembaga amil zakat pada saat ini sangat penting dalam membantu mengentaskan kemiskinan. Karena itu, menurut Sudayat yang pernah menjadi relawan Dompet Dhuafa Republika itu, pengelolaan zakat itu harus oleh lembaga amil zakat tidak boleh sendiri-sendiri. “Institusionalisasi (pelembagaan) amil zakat itu sangat penting,” tegas Sudayat  yang pernah menyalurkan banuan ke negara tetangga Timor Leste dari Dompet Dhuafa.

“Seorang muzakki membagikan zakatnya langsung kepada mustahik, apa yang terjadi? Orang-orang miskin antri berdesak-desakkan yang kemudian meninggal,” katanya mencontohkan. Ini terjadi di negara kita. “Kalau melalui lembaga zakat, itu tidak mungkin akan terjadi,” tegas Sudayat yang juga sebagai Program Director LAZISNU Pusat itu di hadapan peserta training.

Senada dengan para nara sumber, Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik, menegaskan pentingnya pengelolaan zakat melalui lembaga amil zakat yang profesional seperti Lazisnu. Ia mencontohkan, karena pentingnya pengelolaan lembaga amil zakat ini, pengurus pusat Lazisnu mengangkat manajemen eksekutif yang bertugas dan bekerja keras setiap hari. “Zakat tidak boleh dikelola secara asal-asalan, karena lembaga amil zakat mengelola dana masyarakat. Maka harus, serius, sungguh-sungguh, amanah, transparan dan akuntabel,” pesan KH Masyhuri Malik dalam sambutan penutupannya.

Ia mencontohkan, lembaga-lembaga amil zakat lain sudah banyak memperoleh pengumpulan zakat itu.  Hal ini karena memang potensi zakat itu sangat besar. Kiai Masyhuri mengutip salah satu sumber bahwa potensi zakat itu mencapai Rp 100 triliun. “Sementara yang baru terserap oleh lembaga zakat, baru 1,2 triliun atau 1,2 persennya, “ ujar Kiai Masyhuri.

Ketua Panitia Pelaksana H. Kamaluddin yang juga selaku shahibul bait dari Pesantren Mursyidulhadi Ploso Kuning mengucapkan terima kasih kepada Lazisnu yang memberikan kepercayaan kepada pesantrennya untuk melaksanakan training manajemen zakat. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Lazisnu dan mohon maaf atas segala kekurangaanya,” ujar Kamaluddin.

Selain acara training manajemen zakat, Lazisnu juga membantu penyelenggaraan Haul Pesantren Mursyidulhadi dalam kegiatan Khitanan Massal dan Tabligh Akbar yang diselenggarakan di halaman Pesantren Mursyidulhadi Ploso Kuning. Bertindak selaku penceramah KH. Ya’cub Mubarok Syuriah PCNU Kabupaten Temanggung.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: