Pengukuhan Guru Besar Ilmu Tasawuf kepada DR. KH Said Aqil Siradj

SURABAYA – Masyarakat modern dengan segala prestasi yang dicapainya, ternyata mengalami degradasi tata nilai, moral, sosial, politik dan segala hal yang menjurus pada penurunan martabat manusia sehingga menyebabkan pengaburan terhadap nilai-nilai hakiki kehidupan. Banyak orang kemudian merasakan adanya kegersangan dan kekeringan hidup akibat pendangkalan nilai yang terus menerus terjadi disebabkan arogansi rasionalitas dan glorifikasi empirisisme yang didukung dengan kekuatan tekhnologi dan diakselerasi oleh terpaan angin kencang globalisasi.
Prof Dr KH Said Aqil Siroj dalam pidato pengukuhan gelar guru besar ilmu tasawuf di Universitas Negeri Islam Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (29/11) mengemukakan, munculnya berbagai krisis manusia modern sesungguhnya bersumber pada masalah makna. Modernisme dengan kemajuan tekhnologi dan pesatnya industrialisasi dapat menciptakan manusia meraih kehidupan dengan perubahan yang luar biasa. Namun, seiring dengan logika dan orientasi modern, kerja dan materi lantas menjadi aktualisasi kehidupan masyarakat dan gagasan tentang makna hidup terhancurkan.

“Implikasinya, manusia kemudian menjadi bagian mesin yang mati. Masyarakat lantas tergiring pada proses penyamaan diri dengan segala materi serta pendalaman keterbelakangan mentalitas. Manusia semakin terbawa arus deras desakralisasi, dehumanisasi, karena ia selalu disibukkan oleh pergulatan tentang subyek positif dan hal yang empiris.”

Ia menjelaskan, di satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias. Dampak paling krusial dari modernitas adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasarkan pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya terpinggirkan. 

“Maka, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan.”

Inilah yang kemudian pada sisi kenyataan lain, memunculkan bahwa spiritualitas semakin mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat modern dewasa ini. Fenomena keagamaan ini sangat menarik untuk dicermati, karena akhir-akhir ini terdapat pula kecenderungan “rekonsiliasi” antara nilai sufistik dengan dunia modern.

“Ada kecenderungan baru bahwa dimensi spiritualitas yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali oleh masyarakat modern, karena kemajuan seperti dalam bidang iptek membuktikan bahwa problema yang muncul kemudian akibat kemajuan dunia global tetap saja belum terpecahkan. Kegagalan manusia modern, ternyata oleh banyak pengamat hampir sepakat mengatakan bahwa krisis besar melanda umat manusia tidak akan dapat diatasi dengan keunggulan iptek sendiri dan kebesaran ideologi yang dianut oleh negara-negara terkemuka.”

Ekses negatif dari modernisme telah menjadi salah satu pemicu bagi memekarnya hasrat pada spiritualitas termasuk pengkajian kembali terhadap tasawuf. Ketika seluruh kehidupan menjadi begitu melelahkan dan kebudayaan justru melahirkan kegersangan ruhaniah, terjadilah pendulum balik, spiritualitas menjadi sangat digemari oleh mereka yang dahulu menolak prinsip-prinsip rohani dalam hidup.

“Manusia lantas menggandrungi kearifan tradisional yang menjanjikan pengembalian manusia pada fitrah dan mengembangkan hidup yang bermakna.”

“Dalam konteks ini, Saya ingin menegaskan bahwa persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini berada pada satu titik yaitu krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, dominasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern dimana sekularisme menjadi mentalitas zaman dan karena itu spiritualisme menjadi semacam antagonisme bagi kehidupan modern.”

Hadir dalam acara tersebut Menteri Riset M Nasir, Mensos Khofifah Indar Parawansa, Menteri Desa Marwan Jakfar, Mantan Mendikbud M Nuh, Wakil Ketua Komisi Yudisial Imam Ansori Sholeh, dan lainnya. Hampir seluruh jajaran syuriyah dan tanfidziyah PBNU hadir Rais Aam KH Mustofa Bisri, Katib Aam KH Malik Madany, Waketum H As’ad Said Ali dan lainnya.

Tasawuf, Pintu Kemajuan Zaman

Tasawuf sangat dibutuhkan menjadi semangat era global dan modernisme yang gersang dari nilai-nilai spiritualitas. Sejarah kejumudan dan kemunduran umat Islam bukan disebabkan doktrin dan ajaran tasawuf, melainkan justru akibat umat Islam meninggalkan nilai-nilai tasawuf dan terjebak dalam kubangan fitnah duniawi.

Tasawuf yang dipraktikkan secara sebenarnya otomatis akan menjadi metode efektif dan impresif untuk menghadapi tantangan zaman. Bagi kaum sufi, apapun zamannya atau apapun bergejolaknya dunia akan dihadapi dengan jernih, objektif dan ketenangan (thuma’ninah). Dalam ungkapan Imam Al-Junaid, Ash-shufi ibnu waqtihi(seorang sufi adalah anak zamannya).  Ash-shufi kal ma’i, la launa lahu, launuhu launu ‘inaih, (seorang sufi bagikan air tidak memiliki warna tertentu. Warnanya adalah warna tempatnya.)

“Justru kaum sufi yang terbiasa dengan kehidupan nyata, walau hatinya telah melampaui kenyataan lahiriah, akan menempatkan dinamika kehidupan pada tempat yang proporsional. Maka, dengan demikian tasawuf merupakan “revolusi spiritual” (ats-tsaurah ar-ruhiyyah),” kata Kiai Said Aqil Siroj dalam pengukuhan guru besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (29/11).

Kenyataan ini tentunya sangatlah tidak ganjil mengingat adanya proporsionalitas antara ilmu, amal dan kebersihan hati (tashfiyatu al-qalbi). Sebab, ilmu dan amal yang tidak disertai dengan kebersihan hati yang diproses melalui pelatihan sufistik bagi kaum sufi dipandang sia-sia belaka.

Seseorang yang telah tercerahkan melihat seluruh alam ini dengan hatinya. Dia mempersembahkan hatinya sebagai tempat suci bagi ibadah kepada Allah di tengah alam semesta. Dia melihat bukti-bukti kehadiran Allah, kapan saja dan di mana saja. Namun, bagi orang yang awam dalam masalah spiritual, tampak bahwa Allah lebih terasa hadir pada waktu dan tempat khusus dari pada di tempat dan waktu yang lain.

Tujuan utama dari semua praktik kesufian adalah membangkitkan pengalaman kepada kebenaran yang tidak terbatas yang sesungguhnya secara natural telah terbentang dalam hati setiap manusia. Secercah cahaya yang memancar dari dalam tidak terhitung dan tidak terbatas dalam kombinasi mereka yang meliputi semua sifat dan kemudian hakikat adalah satu.

“Sufi yang sejati tidak akan berhenti sebelum mantap dalam pengetahuan tentang hakikat itu, dan ketika hal itu terjadi, semua cahaya lain, semua manifestasi dan sifat yang agung meluber dalam pancaran sinar dan kebangkitan batin,” tandasnya.

Puncak kesufian terlukiskan dalam ungkapan, “’Kita’ ini sebenarnya ‘tidak ada’. Tapi Kita ini di-ada-kan oleh yang ‘Ada’. Yang ‘Ada’ sebelum kata ‘ada’ itu ‘Ada’. Maka yang ‘Ada’ hanyalah yang ‘Ada’. Kita menggunakan kata ‘ada’ karena ada yang ‘Ada’. Dan kita menggunakan kata ‘tidak ada’ karena ada yang ‘Ada’ yaitu Allah”.  Dalam pengungkapan kata ganti ‘aku’, ‘engkau’ dan ‘dia’ misalnya ‘aku Ahmad’, ‘engkau Husein’ dan ‘dia Hasan’, maka ketika tiga orang tersebut sudah tidak ada, kembalinya ‘aku’, ‘engkau’ dan ‘dia’   hanyalah pada ‘Aku yang tidak pernah mati’, yaitula ilaha illa ana dan ‘Engkau yang selamanya ada ‘yaitu la ilaha illa anta serta ’Dia yang selamanya hidup’, yaitu la ilaha illa huwa. Jadi hakikatnya ‘Aku, Engkau dan Dia’ adalah Allah Swt.. Kita hanya mendapatkan ‘pinjaman’ sampai batas usia tertentu.

Pada akhirnya menjadi semakin jelas bahwa sesungguhnya zaman modern ini justru lebih membutuhkan tasawuf daripada zaman orang-orang terdahulu. “Zaman modern ini mengundang banyak godaan dan tantangan yang bisa menjerumuskan manusia pada tingkatan yang rendah di berbagai aspek. Sebab, sejatinya manusia yang beradab adalah manusia yang hatinya berfungsi aktif mulai dari bashirah hingga fuad.”

Indonesia, kata Kiai Said, sedang dalam era kepemimpinan baru yang tengah bersemangat menggemakan ‘revolusi mental’ tentunya bisa menjadi harapan baru bagi Indonesia yang lebih beradab. “Setelah sekian lama bangsa kita merasakan pudarnya nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, solidaritas yang akarnya adalah kejatuhan mental, sehingga bangsa kita ini mudah dimasuki oleh berbagai pengaruh khususnya pengaruh asing seperti kapitalisme, liberalisme serta radikalisme dan terorisme. Maka dengan sangat jelas dan urgen, ‘revolusi mental’ membutuhkan ‘amunisi’  yang lebih mendalam dan mendasar dalam mendongkrak dan membangun mentalitas bangsa yang paripurna, yaitu melalui ‘revolusi spiritual’ yang berbasiskan pada tasawuf.”

Para sufi telah merumuskan suatu pemahaman bathiniyah yang sangat substantif-holistik dengan mengejawantahkan nilai-nilai esoteris keagamaan dan kemanusiaan yang adiluhung. Mereka berangkat dari suatu pengalaman sufistik yang begitu mendasar dan mendalam. Pemikiran universalis dalam revolusi yang dirumuskan oleh para sufi ini merupakan estafeta pemikiran yang telah berlangsung lama dalam ranah dunia kesufian. Suatu pengungkapan yang secara otentik dan bersandar dari hasil penjelajahan intensif dalam samudera keilmuan dan pengamalan jiwa-batini.

“Walhasil, kita perlu membangun bangsa ini melalui ‘revolusi spiritual’ berkultur sufisme.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)