PWNU Aceh Soroti Lunturnya Ruh Keulamaan di Muktamar NU

BANDA ACEH – Muktamar ke-33 Nahdatul Ulama dipastikan akan diselenggarakan pada 1-5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur. Berikut ini harapan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nanggroe Aceh Darussalam.

“Muktamar adalah agenda besar NU dalam lima tahun sekali. Maka forum ini harus menjadi nahdlah (kebangkitan) bagi ulama NU,” kata Ketua PWNU Tgk. H. Faisal Ali mengawali pembicaraan saat bersilaturahim ke ruang redaksi NU Online, Jakarta, Senin (8/12).

Ada yang hilang di muktamar, katanya. Apa itu? “Ruh keulamaan.”

“Misalnya waktu shalat, kita tidak lihat sama-sama shalat semua. Meskipun mayoritas peserta muktamar dari daerah-daerah lain berhak menjama’ dan qashar shalat, tapi perlu diagendakan shalat berjamaah,” katanya. Selama ini memang agenda muktamar terfokus pada ceramah-ceramah, rapat-rapat dan persidangan.

Pemandangan lain ditemukan di arena muktamar yang tidak pas jika dilihat oleh orang Aceh dan mungkin masyarakat daerah lainnya.

“Mungkin itu sudah lumrah di Jakarta, tapi di daerah lain menjadi problem. Misalnya, di tempat muktamar itu sering banyak teman dari kelompok perempuan yang pakaiannya tidak sesuai. Ini perlu dijaga oleh panitia. Juga soal hiburan, meskipun menampilkan kebudayaan tetapi juga harus menghargai ulama yang hadir.”

“Dari Aceh, waktu Muktamar Makassar 2010 lalu kami bawa ulama sepuh. Secara jam’iyah dulu ulama Aceh tidak dekat dengan NU, meskipun secara ideoogi sama. Tapi skarang insya Allahsudah NU semua. Waktu dibawa ke Muktamar mereka kaget, ada yang jual obat kuat segala,” kata Tgk. Faishal.

Terkait sistem pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU baru untuk lima tahun kedepan yang kemudian dinamakan ahlul halli wal aqdi, PWNU Aceh menyatakan, sistem baru yang ditawarkan masih belum jelas.

“Apakah wilayah atau kepulauan mewakili dan berapa orang? Belum ada tawaran yang jelas. Dimana-mana memang sekarang ini sedang bermasalah apakah dipilih langsung atau perwakilan. Biarlah nanti muktamar yang menentukan, namun sementara ini yang ditawarkan belum terbaca,” katanya.

Bagaimana kriteria Rais Aam yang diusulkan oleh PWNU Aceh? “Rais Aam haruslah orang yang bisa memadukan dua hal, dunia dan akhirar. Pengetahuan agama Islam sangat penting, namun harus dipadukan dengan pengetahuan dunia yang lain. Jangan misalnya kuat sekali keilmuannya tapi keduniawian terbatas.”

Satu lagi, kemampuan fisik juga saat penting. “Kami sangat berharap, Rais Aam sering mengunjungi daerah-daerah,” tambahnya

Untuk bakal calon Ketua Umum Tanfidiyah, menurutnya, haruslah dipilih orang yang mampu menata organisasi NU dan bisa melepaskan diri dari kepentingan politik. “Anak NU banyak sekali di partai politik, jika ketua umum tidak bisa terlepas dari partai politik akan terseret-seret.”

Ditambahkan, bakal calon ketua umum PBNU tidak harus kiai atau mengasuh pesantren. “Kalau dipadukan lebih baik. Kalau tidak, ya yang paling penting bisa menata organisasi,” demikian Tgk. Faisal.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: