3000 Santri Wonosobo Ikrar Setia NKRI

Wonosobo, Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Wonosobo menggelar sarasehan dan ikrar santri se-Kabupaten Wonosobo. Sekitar 3000 santri dari berbagai Pondok Pesanteren di daerah Wonosobo, Jawa Tengah, tumpah ruah memadati Gedung Sasana Adipura Kencana Wonosobo, Jawa Tengah.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Bupati Wonosobo  A. Kholik Arif, Ketua Tanfidziah PCNU Wonosobo KH. Arifin Shiddiq, Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH. Abdul Halim AYM, Ketua Rabitah Ma’ahid Al-Islamiah NU (RMINU) Wonosobo K. Akhmad Fadlun, tokoh Wonosobo KH. Habibullah Idris, serta beberapa pengasuh pondok pesantren.

Sarasehan yang berlangsung Senin (26/10) itu dibuka dengan pembacaan Maulid Simtuddur, sebuah kitab maulid karya habib Ali bin Muhammad Alhabsyi, dengan iringan seni musik rebana. Di sela-sela acara, pembacaan ikrar santri dikumandangkan, dipimpin oleh K. Akhmad Fadlun selaku Ketua RMINU atau asosiasi pesantren NU Wonosobo. Ikrar memuat antara lain kesetiaan terhadap NKRI.

Bupati Wonosobo Kholik Arif  menyampaikan, Islam yang digagas kaum santri mampu menyatukan antara semangat Islam dengan nasionalisme. Berkat integrasi kedua sikap itulah, sehingga muncul Islam yang ramah, Islam yang toleran, dan Islam yang bersedia untuk bersatu padu memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara.

“Islam yang hadir dari Timur Tengah dengan kekuatan budaya Nusantara ternyata mampu diterjemahkan oleh para santri menjadi Islam yang rahmatan lil alamin. Dan ini justru tidak terjadi di negara-negara Timur Tengah,” ujarnya.

Di hadapan para santri Kholik juga bercerita bahwa belum lama ini ada beberapa Syaikh dari Afghanistan datang ke Wonosobo untuk belajar tentang bagaimana menerapkan kehidupan yang damai dan harmonis di tengah-tengah aneka perbedaan yang ada.

Dalam kesempatan tersebuat ia juga mengimbau agar para santri senantiasa mendidik diri untuk cinta kepada Indonesia. Sehingga negara yang sudah aman ini tidak mudah diobrak-abrik oleh kepentingan yang tidak jelas.

Kholik Arif yang juga pernah menjadi Ketua Ikatan Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jateng ini, menyambut positif sikap pemerintah yang telah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Hal itu merupakan sinyal bahwa pemerintah kini merasa mendapatkan dukungan dari kalangan pesantren. (M. Haromain/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: