5000 Santri Gelar Upacara Hari Pahlawan Nasional

Malang,
Cendekiawan besarung sejumlah 5000 memadati Lapangan Pesantren Annur II, Bululawang, Malang, Selasa (10/11). Santri yang berbaris rapi dengan sarung hijau itu mengikuti upacara Peringati Hari Pahlawan Nasional.

Tak sulit mengondisikan ribuan santri untuk tertib mengikuti Upacara Hari Pahlawan yang pertama kali diadakan ini. Pasalnya para santri sudah digembleng disiplin sebelumnya dalam berbagai aktivitas seperti sholat berjama’ah, kajian kitab kuning, hingga tahajud bersama.

“Jadi untuk Upacara Peringatan Hari Pahlawan ini, para santri sudah terlatih untuk tertib sesuai intruksi Inspektur Upacara yaitu Gus Ahmad Zinuddin,” kata Gus Helmi Yahya pada .

Gus Helmy menjelaskan, kami tidak menuntut para santri berjuang bak pahlawan terdahulu yang harus membayar kemerdekaan dengan darah. Diakui atau tidak, dulu dan sekarang ladang perjuangannya jelas berdeda. Untuk para santri, cukup menjadi santri yang bermanfaat, berbakti pada negara, menjalankan agama yang toleran itu sudah mewarisi semangat perjuangan para pahlawan. Menjaga kemerdekaan dengan benar, dengan beragama yang penuh kasih sesuai tindak tanduk para wali songo, Islam Nusantara.

Dengan upacara seperti ini, semangat juang para pahlawan bisa kita kenang dan kita renungkan. Dan itu bisa diserap santri untuk memiliki semangat yang sama dan diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari untuk terus berbuat baik dan produktif dalam karya.

Ketika ditanya kenapa upacara dengan memakai sarung? Gus Helmy menjawab dengan santai. Menurutnya, sarung adalah identitas santri, dan untuk upacara tidak harus menanggalakkan identitas santri, karena yang substansi adalah perenungan dan mentransformsikan semangat para pahlawan untuk masa depan bangsa.

Suasana mendung kota Malang mengiringi khidmatnya upacara. Tak pelak, tak ada satupun dari santri dan pengurus yang pingsan karena kepanasan. Tak kurang dari dua jam berjalannya upacara, para santri kembali beraktivitas seperti semula. Upacara berjalan lancar dan tidak memakan waktu lama. Tak lama setelah itu Malang diguyur hujan angin dan petir. (Diana Manzila/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: