Abdurrahman Mas’ud: Militansi Beragama Seringkali Abaikan Toleransi

Tangerang Selatan, Akhir-akhir ini muncul aksi kekerasan demi menegakkan ajaran agama. Padahal, setiap agama tidak mengajarkan kekerasan. Kekerasan dilarang setiap agama. Namun, umat beragama dengan militansi menegakkan agama seringkali mengabaikan toleransi. Sebaliknya, yang dikedepankan justru watak kekerasan. Bahkan, yang paling ekstrim diwujudkan dalam bentuk aksi terorisme.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud saat didaulat sebagai Keynote Speaker mewakili Menteri Agama pada Annual Conference of Religious Colleges Student in Indonesia (ACCROSS). Simposium nasional tersebut dihelat di Auditorium Prof Dr Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (27/5).

Permasalahan di Republik yang dikenal sebagai negara yang ramah dan toleran ini, kata Abdurrahman, salah satunya adalah arus radikalisme yang terjadi di masyarakat. Radikalisme terlihat mulai menguatnya sikap permusuhan antarumat beragama, hasutan, provokasi, hingga aksi kekerasan. Eksklusivisme dalam beragama mengarahkan penganutnya untuk tidak toleran terhadap perbedaan dan kemajemukan.

Abdurrahman menambahkan, eksklusivisme juga bisa ditarik ke titik ekstrim dengan berbuat kekerasan, baik intelektual, psikologis maupun fisik terhadap siapa pun yang dianggap berbeda. “Tapi kita harus ingat violence and revenge will never become part of any major religion. Semua agama pada dasarnya mengajarkan peace and justice,” terang doktor jebolan Amerika ini.

Menurut dia, kelompok eksklusif biasanya cenderung mengintepresikan agama secara literal dan sempit serta menganggap orang lain yang tidak sependapat berada di luar kelompoknya. Mereka siap menolak orang-orang yang tidak menerima cara berfikir yang berbeda. “Bahkan, aksi kekerasan tidak hanya terbatas pada orang-orang yang tidak seagama, tetapi juga ditujukan kepada anggota-anggota komunitas mereka sendiri yang mengikuti cara berfikir berbeda,” tandasnya.

Balitbang dan Diklat Kemenag, lanjutnya, pernah melakukan penelitian dengan tema Pola Aktivitas Kelompok Keagamaan di Kalangan Mahasiswa Pasca Reformasi. Penelitian ini merupakan kajian atas studi kasus di enam Perguruan Tinggi (PT). Hasil penelitian itu, berhasil memotret realitas kehidupan sosial-keagamaan di enam PT tersebut, antara lain adanya corak metode penerapan ideologi Khilafah Islamiyah, metode menjaga idelogi berbasis hukum Islam, dan metode penyebarluasan idelogi berupa dakwah dan jihad.

“Pergerakan ini antara lain dipengaruhi oleh penggunaan sumber rujukan dari buku-buku terjemahan karangan ulama Timur Tengah yang mengedepankan doktrin Islam bernuansa fundamentalis,” ungkapnya.

Potensi radikalisme di semua agama

Ada juga penelitian tentang Potensi Radikalisme di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama yang dilakukan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Tahun 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi radikalisme berbasis pada pemahaman ideologis yang cenderung kaku dan hitam-putih terjadi di semua agama, baik di lingkungan mahasiswa muslim, Katolik, Kristen, Hindu maupun Buddha. 

Abdurrahman Mas’ud menegaskan, dalam rangka menghadapi paham radikalisme, tentu tidaklah cukup berbekal wacana. Harus pula diimbangi gerakan ideologisasi keagamaan perspektif humanitarian, yaitu dengan cara melakukan counter intellectual movement terhadap pemahaman keagamaan radikalistik tersebut. 

“Kita harus melakukan ‘gerakan intelektual’ keagamaan moderat dalam mengimbangi ‘gerakan ideologis’ radikal itu. Selama ini kita cenderung silent majority,” tandas mantan Kapuslitbang Penda ini.

Menurut pria kelahiran Kudus ini, pendidikan berbasis nilai perdamaian (peace values based education) diperlukan dalam upaya menyelesaikan konflik sosial-keagamaan. “Untuk itu, diperlukan penyegaran sikap, komitmen seluruh warga masyarakat termasuk mahasiswa tentang metode dan pendekatan pendidikan yang lebih integratif-interkonektif. Keluasan teori dan praktik pendidikan perlu dijadikan acuan untuk perbaikan dan penyempurnaan yang telah dilakukan selama ini,” tegasnya.

Simposium nasional bertema “Peran Mahasiswa dan Perguruan Tinggi Agama terhadap Resolusi Konflik Keagamaan di Indonesia” ini terlaksana berkat kerjasama Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Insan Cendekia Indonesia. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: