Ada Tiga Kesamaan Antara Santri dan Kartun, Kata Menag

Jakarta, NU Online
Selama ini, santri identik dengan mengaji. Sementara kartun adalah karya seni. Menyandingkan santri dan kartun bagi sebagian orang mungkin terasa aneh dan memberi kesan tersendiri.

“Apa pertautan antara kartun dan santri???” demikian pertanyaan Menteri Agama mengawali sambutannya saat launching Pameran Kartun Santri Nasional di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (24/11) malam.

Menurut Menag, banyak kesamaan antara seni kartun dan santri, dan 3 di antaranya adalah: pertama, kartun dan santri sama-sama memiliki ruh, memiliki jiwa intelektual. Dikatakan Menag, baik kartun maupun santri selalu mengajak seseorang untuk berfikir. Santri senang melakukan pengkajian, penelaahan, aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari berfikir. 

“Kartun selalu merupakan artikulasi apa yang ada dalam fikiran yang dituangkan dalam bentuk lukisan,visual, dan gambar,” terangnya.

Kedua, baik kartun ataupun santri selalu berupaya mengubah kehidupan sosial kemasyarakatan ke arah yang lebih baik, apalagi jika muatan pesannya berupa kritik-kritik sosial. 

Ketiga, kartun dan santri, keduanya mengandung unsur homor, setidak-tidaknya suka dengan hal-hal yang humoris. Karya-karya kartun sangat kaya dengan nilai humor, santri juga kaya dengan humor. 

“Kalau gak suka humor, perlu dipertanyakan kesantriannya,” canda Menag.

Menag berharap kartun ke depan menjadi ajang para santri dalam menyampaikan gagasan tentang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sehingga terasa lebih ringan dan mudah diterima. Islam tidak selalu disampaikan dengan teori-teori yang berat, namun bisa juga dengan santai. 

“Dunia kartun merupakan media yang strategis untuk menyampaikan kedamaian, toleransi kesejukan, sehingga kehidupan keberagamaan kita semakin baik,” kata Menag seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Senada dengan Menag, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin menyampaikan bahwa direktorat yang dipimpinnya akan terus mengkampanyekan bahwa pesantren merupakan penjaga Islam Nusantara yang konsisten. Di tengah perkembangan zaman yang ada, harapannya pesan-pesan melalui kartun dapat mengubah yang berat dan menjadi mudah dicerna.  

Sementara itu, Kurator Kartun Indonesia Kuss Indarto menyampaikan, agama itu bersumber dari wahyu dan memiliki norma-normanya sendiri, yang bersifat normatif, sehingga ia cenderung menjadi permanen.

Sedangkan budaya, merupakan buatan manusia, maka ia berkembang sesuai dengan perkembagan zaman dan cenderung untuk selalu berubah. Oleh karenanya, Kuss berharap berharap Kemenag bisa menjadikan kartun sebagai salah satu sarana pencapai tujuannya untuk dapat menyampaikan ajaran Islam dengan seni kartun.

Launching Pameran Kartun Santri Nasional dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh santri yang kini menjadi sastrawan nasional asal Madura, KH Zawawi Imron. Sebelumnya membacakan puisinya,  seniman yang dikenal dengan Celurit Emas ini menyampaikan bahwa dirinya adalah kartun. Kepada ratusan pengunjung yang hadir memadati venue pameran, Zawawi mengaku masih bingung siapakah dia sebenarnya. Ke mana-kemana dengan tongkat yang mengikutinya, atau dirinya yang mengikuti tongkat. Tapi biarlah itu menjadi misteri, paparnya.

“Telur…. Dubur ayam yang mengeluarkan telur, lebih mulia dari mulut intelektual yang hanya menjanjikan telur,” demikian KH Zawawi Imron mulai membacakan puisinya.

Selain puisi telur, KH Zawawi Imron juga membacakan puisinya tentang “Cinta Tanah Air Model Pesantren” dan puisi tentang “Ibu”. Red: Mukafi Niam

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: