Agama-agama di Waykanan Berbagi Tumpeng Keberagaman

Waykanan,

Okti Priyanti (muslimah) dan Brigita Cindy Feriyani (nasrani) keduanya pelajar SMAN 2 Blambangan Umpu Kabupaten Waykanan di Lampung berbagi tumpeng keberagaman dengan saling suap pada Festival Bhineka Tunggal Ika memperingati Hari Toleransi Internasional dihelat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Gusdurian Lampung, Rabu (18/11).

Selain pelajar, Ketua Pemuda Katholik setempat Andreas Sugiman juga menyuapi Ketua PC GP Ansor Gatot Arifianto dan Pelaksana Tugas Ketua Kelompok Kerja Wartawan Dedi Tarnando pada kegiatan berlangsung di aula SMAN 2 Blambangan Umpu, Kampung Sidoarjo yang dihadiri Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Khambali mewakili Kepala Dinas Musadi Muharam dan sejumlah perwakilan dari Persatuan Wartawan Indonesia.

NU, demikian Gatot melanjutkan, mengajarkan tiga ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia).

“Saling suap ini simbol persaudaraan umat manusia. Dan harus senantiasa direalisasikan pada kehidupan sehari-hari,” kata Gatot yang pada kegiatan itu mengajak pelajar dan hadirin bersama-sama meyakini dan menyerukan NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya dan Bhineka Tunggal Ika Pusaka Kita.

Ia mengingatkan, di Bali, I Gusti Ngurah Rai melawan Belanda demi mempertahankan Indonesia melalui Puputan Margarana, lalu di Maluku ada Martha Christina Tiahahu, di Nagggroe Aceh Darussalam ada Cut Nyak Dhien. “Mereka pahlawan-pahlawan bangsa Indonesia dengan latar belakang berbeda. Keberadaan Indonesia tidak berasal dari satu golongan saja,” paparnya.

Andreas Sugiman, menambahkan, Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

“Saya saat ini dipercaya menjadi Kepala Kampung Sriwijaya dengan penduduk yang mayoritas muslim. Yang Katholik seperti saya tidak mencapai 100 KK. Hal itu sebenarnya penegasan bahwa toleransi sebenarnya berjalan baik di daerah ini,” kata Sugiman lagi.

Masyarakat Lampung, imbuh Dedi, memiliki lima falsafah yang termaktub dalam Kuntara Raja Niti, yakni Piil-Pusanggiri bermakna memiliki harga diri, konsistensi dan integritas. Lalu Bejuluq-Beadoq bermakna memiliki kepribadian sesuai dengan Gelar Adat yang disandangnya.

“Selanjutnya Nemui-Nyimah bermakna saling mengunjungi untuk bersilaturahmi, selalu mempererat persaudaraan serta ramah dalam menerima tamu. Lantas Nengah-Nyampokh bermakna aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis, serta Sakai-Sambayan bermakna gotong-royong dan saling tolong menolong dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Dedi lalu menegaskan, istilah pribumi dan pendatang tidak lagi relevan di era saat ini. (Disisi SF/Abdulah ALawi)

 

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: