Agar Negara Tetap Aman, Hormatilah Para Ulama

Boyolali, NU Online
Fenomena yang terjadi di dunia saat ini, banyak negara-negara Islam yang porak poranda akibat perang saudara, radikalisme, serangan negara asing, maupun konflik lain yang berkepanjangan dan tak kunjung selesai. Sebut saja mulai dari Irak, Mesir, Suriah, Libya, Yaman dan lain sebagainya mengalami penderitaan perang saudara.

Ironisnya, negara-negara itu merupakan tempat kelahiran atau pernah ditempati para ulama dan waliyullah nan agung seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (Baghdad, Irak) Imam Nawawi (Nawa, Damaskus) dan lainnya.

Lalu apa kaitannya, negara-negara yang porak poranda itu dengan para ulama yang ada di dalamnya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat?

“Saya pernah bertanya kepada Habib Luthfi bin Yahya, mengapa banyak negara-negara yang menghasilkan ulama dan wali besar justru sekarang banyak yang hancur?” kata Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini pada pidato sambutan pembukaan Kongres IPNU-IPPNU, Sabtu (5/12), di Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

“Karena mereka yang hidup sudah tidak lagi menghormati yang mati,” tutur Helmy menirukan jawaban dari Habib Luhtfi.

Dipaparkan Helmy, di negara tersebut mulai luntur budaya kirim doa kepada para ulama yang sudah wafat, maupun bertawasul. “Berbeda dengan di Indonesia, di negara ini, ziarah ke makam para wali masih sangat ramai. Masih ada warga NU, yang tawadhu’ kepada para ulama,” ujar dia.

Menurutnya, sikap penghormatan kepada para ulama baik yang masih hidup maupun sudah wafat mungkin menjadi salah satu sebab turunnya rahmat Allah. “Kalau tidak ada NU, mungkin negara ini sudah hancur, tak ada lagi yang kenal Pancasila,” tegas dia.

Pada momen kongres ini, ia juga berharap para kader IPNU-IPPNU senantiasa berkomitmen menjaga NKRI. “Sebagai organisasi pelajar milik NU harus berkomitmen menjaga NKRI jangan sampai dipecah belah oleh pihak tertentu, yang tidak ingin Islam di Indonesia menjadi damai,” tegasnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: